Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS pada Juni 2026

MO
Moch Febrianto

Editor: Nathasya Zallianty

Rabu, 24 Juni 2026
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS pada Juni 2026
Ilustrasi nilai tukar rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda ditutup mengalami penurunan sebesar 0,09 persen atau merosot 16 poin ke level Rp17.859 per dolar AS pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026). Pada momen yang sama, pergerakan indeks dolar AS justru terpantau menguat sebesar 0,11 persen menuju posisi 101,13.

Langkah otoritas moneter yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh angka 5,75 persen pada pertemuan Juni 2026 dinilai akan cukup membantu dalam memperlambat laju penurunan nilai mata uang domestik untuk periode jangka pendek. Sebelum adanya kebijakan penyesuaian suku bunga acuan pada bulan ini, nilai mata uang dalam negeri bahkan sempat terlempar hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS.

"Namun, meningkatnya ketidakpastian global kemungkinan akan membatasi pemulihan rupiah yang berkelanjutan. Likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap ketat, menunjukkan adanya permintaan dasar yang masih kuat terhadap dolar. Tekanan eksternal tetap ada, termasuk tingginya yield AS dan harga minyak yang tinggi," ujarnya dalam laporan riset.

Melihat kondisi pada sektor riil, angka surplus neraca perdagangan mengalami penyusutan yang cukup dalam menjadi sebesar US$89 juta pada periode April 2026, jika dibandingkan pencapaian bulan Maret 2026 yang sempat menyentuh US$3,3 miliar.

Sementara itu, jumlah cadangan devisa juga tercatat mengalami penurunan menjadi:

US$144,9 miliar dari posisi sebelumnya sebesar US$156,5 miliar pada Desember 2025.

Di waktu yang bersamaan, lonjakan angka inflasi pada sektor pangan sebesar 6,2 persen secara tahunan dinilai semakin memperkuat adanya risiko perluasan transmisi inflasi ke sektor lainnya.

Melihat posisi mata uang domestik yang masih berada di bawah bayang-bayang tekanan, terdapat proyeksi akan adanya kenaikan lanjutan pada suku bunga acuan sebesar 25 bps pada kuartal III/2026, yang diperkirakan dapat terjadi paling cepat pada bulan Juli 2026.

Arah kebijakan moneter saat ini terlihat jelas sudah beralih ke arah pengetatan likuiditas yang merefleksikan adanya kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas nilai mata uang serta kenaikan risiko inflasi. Untuk pergerakan jangka pendek, mata uang dalam negeri diprediksi akan berada pada rentang Rp17.500 sampai dengan Rp17.800 per dolar AS. Tren penguatan sesaat ini akan sangat bergantung pada penurunan intensitas ketegangan geopolitik dunia.

"Namun, dengan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah, risiko cenderung mengarah ke atas. Risikonya adalah konflik berlanjut hingga kuartal III, dengan rupiah bergerak sedikit lebih tinggi kembali menuju Rp18.200. Dalam kondisi ini, lonjakan kenaikan secara episodik masih mungkin terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global," tandasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua