Rupiah Ditutup Rp17.804 Per Dolar, Investor Tunggu Inflasi AS Dan MSCI

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Minggu, 21 Juni 2026
Rupiah Ditutup Rp17.804 Per Dolar, Investor Tunggu Inflasi AS Dan MSCI
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal pada pekan mendatang, meski dukungan domestik mulai muncul dari ekspektasi kebijakan moneter Bank Indonesia lebih ketat. Dinamika global, terutama arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat, masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah rupiah.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan, rupiah di pasar spot melemah Rp10 atau 0,06 persen menjadi Rp17.804 per dolar AS. Sepanjang pekan, rupiah masih mencatat penguatan 0,31 persen dibandingkan posisi Rp17.860 per dolar AS pada Jumat, 12 Juni 2026. Kurs rupiah Jisdor stagnan di Rp17.826 per dolar AS, namun secara mingguan tetap menguat 0,53 persen dari Rp17.921 per dolar AS.

Pelemahan rupiah akhir pekan dipicu penguatan indeks dolar AS yang berlanjut. Pada Jumat, 19 Juni 2026, indeks dolar AS berada di level 100,758 atau naik 2,49 persen secara year-to-date. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menahan laju rupiah meski sentimen domestik membaik.

Fundamental domestik menunjukkan perbaikan. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk rupiah. Pasar juga merespons positif hasil review MSCI yang memberi sentimen tambahan bagi keuangan Indonesia. 

“Rupiah didukung oleh laporan review MSCI yang direspon positif investor serta prospek kenaikan suku bunga oleh BI kedepan ikut mendukung,” ujarnya.

Bank Indonesia saat ini mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Ekspektasi kebijakan moneter ketat dinilai dapat menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal. Namun arah pergerakan rupiah tetap bergantung pada kondisi global, terutama kebijakan moneter AS. “Namun perkembangan eksternal masih berubah-ubah serta indeks dolar AS yang masih naik mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun pasca hasil FOMC yang hawkish,” jelasnya.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi penting AS, terutama inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai indikator acuan bank sentral. Investor juga menunggu revisi final pertumbuhan PDB AS yang memberi gambaran kekuatan ekonomi. Di sisi lain, perhatian pasar tertuju pada pengumuman klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang berpotensi memengaruhi arus modal asing. “Sedangkan investor juga menantikan MSCI untuk merilis klasifikasi IHSG minggu depan, yang tentunya saat ini masih diharapkan tetap menyandang status emerging market,” ujarnya.

Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS dengan kecenderungan fluktuatif. Tekanan eksternal dari penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membatasi penguatan rupiah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua