Stabilitas Kurs Rupiah Jadi Kunci Utama IHSG Tembus Level 7500 Pada 2026

MO
Moch Febrianto

Editor: Nathasya Zallianty

Jumat, 19 Juni 2026
Stabilitas Kurs Rupiah Jadi Kunci Utama IHSG Tembus Level 7500 Pada 2026
Ilustrasi ihsg (sumber foto: NET)

JAKARTA - Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, prospek pasar saham tanah air hingga akhir 2026 diyakini cukup menjanjikan. Indeks Harga Saham Gambungan diprediksi menembus level psikologis 7500, didorong oleh stabilitas nilai tukar rupiah yang mulai membaik, serta potensi kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik. Stabilitas mata uang Garuda menjadi faktor kunci yang memperkuat kepercayaan investor dan menopang penguatan pasar saham dalam beberapa bulan ke depan.

Nilai tukar rupiah berpeluang bergerak lebih stabil dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Kurs diperkirakan menguat di area Rp 17.400-Rp 17.600 per dollar AS, seiring upaya stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter. Stabilitas nilai tukar penting dilaksanakan karena dapat mengurangi fluktuasi kurs atau currency risk yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing menempatkan dana mereka di pasar domestik.

Ketika rupiah menjadi lebih stabil, tingkat ketidakpastian berkurang sehingga meningkatkan daya tarik aset-aset domestik. Selain memberikan kepastian yang lebih baik bagi pelaku pasar, stabilitas kurs juga mendukung kinerja neraca perdagangan Indonesia. Membaiknya kondisi eksternal dan menurunnya risiko nilai tukar menjadi katalis positif bagi pasar saham karena mendorong kembalinya aliran dana asing ke Indonesia. Jika arus modal asing kembali meningkat bakal menopang IHSG.

“Ketika pergerakan rupiah mulai stabil, risiko fluktuasi kurs bagi investor otomatis akan berkurang drastis. Hal ini jelas menjadi katalis yang sangat positif bagi pasar modal kami, karena kestabilan kurs lambat laun akan memperkuat performa neraca perdagangan sekaligus memicu kembalinya aliran dana asing secara masif ke Indonesia,” ujar sumber.

Sebagai informasi, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 bps dalam kurun waktu kurang dari satu bulan pada 2026. Jadwal kenaikan tersebut yaitu: Bank sentral lebih dulu menaikkan BI Rate 50 basis poin pada 20 Mei 2026. Lalu, 25 basis poin di 9 Juni 2026. Kenaikan berikutnya diputuskan pada 18 Juni 2026.

Pada penutupan perdagangan Kamis sore, rupiah di pasar spot melemah. Mata uang Garuda terdepresiasi 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp 17.794 per dollar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah terjadi tak berselang lama BI mengerek suku bunga 25 basis poin.

Meski BI masih membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga di masa depan, bursa saham dalam negeri hingga akhir tahun tetap optimistis. Stabilitas rupiah dan berkurangnya ketidakpastian kebijakan menjadi faktor penguatan pasar.

“Meskipun BI masih membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan, kami tetap optimistis melihat target jangka panjang bursa domestik,” paparnya.

Pasar saham diyakini masih memiliki ruang penguatan yang cukup besar untuk kembali menembus level psikologis 7500 hingga akhir 2026. Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan akan memberikan tantangan tersendiri bagi saham-saham yang masuk dalam kategori growth stocks atau saham bertumbuh. Kenaikan BI Rate mendorong kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko yang menjadi salah satu komponen utama penilaian valuasi saham. Secara teori, kenaikan suku bunga akan meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan dalam menghitung nilai saat ini dari potensi keuntungan perusahaan di masa depan.

Akibatnya, nilai masa depan dari ekspektasi pertumbuhan jangka panjang emiten-emiten growth akan cenderung menurun sehingga valuasinya menjadi lebih ketat di mata investor.

“Ketika tingkat diskonto naik, maka nilai masa depan dari ekspektasi pertumbuhan jangka panjang emiten-emiten growth ini akan cenderung menyusut, sehingga valuasinya terlihat menjadi lebih ketat atau mahal,” kata sumber.

Meski sejumlah sektor menghadapi tekanan akibat suku bunga tinggi, sektor perbankan justru menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan. Bank masih memiliki peluang meningkatkan margin bunga bersih atau net interest margin saat kenaikan BI Rate.

“Sektor perbankan tetap menjadi sektor yang paling diuntungkan di era suku bunga tinggi ini karena adanya ruang perbaikan pada Net Interest Margin mereka,” lanjut dia.

Risiko perlambatan pertumbuhan kredit tetap ada sebagai konsekuensi dari kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, industri perbankan kini dalam kondisi yang lebih siap dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Namun, kalau kami perhatikan historisnya, tren perlambatan kredit ini sebenarnya sudah mulai terjadi secara bertahap sejak mencapai titik puncaknya di tahun 2024 lalu. Jadi, perbankan kami sudah jauh lebih siap memitigasi risiko tersebut,” ungkapnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua