Penyebab Bau Prengus pada Daging Sapi dan Cara Hilangkannya

RE
Redaksi

Editor: Nathasya Zallianty

Kamis, 18 Juni 2026
Penyebab Bau Prengus pada Daging Sapi dan Cara Hilangkannya
Ilustrasi Daging Sapi (sumber:net)

JAKARTA - Pernahkah Anda membeli daging sapi segar, namun saat hendak memasaknya, aroma yang tercium justru sangat menyengat dan tidak sedap? Banyak orang sering mengeluhkan aroma tidak sedap ini, yang dalam istilah kuliner sering disebut sebagai bau prengus. Aroma ini tentu sangat mengganggu, bahkan bisa menurunkan selera makan sebelum hidangan sempat disajikan.

Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab bau prengus pada Daging Sapi? Apakah aroma tersebut menandakan bahwa daging sudah rusak atau busuk? Ataukah ada faktor lain yang mempengaruhinya sejak sapi tersebut masih berada di peternakan?

Memahami asal-usul aroma ini sangat penting bagi para pelaku usaha kuliner, ibu rumah tangga, maupun siapa saja yang gemar memasak. Dengan mengetahui faktor pemicunya, Anda tidak hanya bisa menghindari salah pilih daging di pasar, tetapi juga tahu cara memperlakukannya dengan benar di dapur. Mari kita bedah secara mendalam berbagai faktor yang memicu aroma kurang sedap ini serta bagaimana langkah terbaik untuk meminimalisirnya.

Faktor Alami yang Mempengaruhi Aroma Daging Sapi

Secara ilmiah, setiap daging hewan mamalia memiliki karakteristik aroma yang khas. Aroma ini dipengaruhi oleh kombinasi senyawa kimia, jaringan lemak, dan zat volatil yang ada di dalam tubuh hewan tersebut. Namun, jika aromanya berubah menjadi prengus yang tajam, biasanya ada beberapa faktor biologis dan lingkungan yang mendasarinya.

1. Jenis Pakan yang Dikonsumsi Sapi

Apa yang dimakan oleh sapi akan sangat menentukan kualitas, rasa, dan aroma dagingnya. Sapi yang dilepasliarkan dan hanya memakan rumput segar (grass-fed) cenderung memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang lebih tinggi dan profil fitokimia yang berbeda. Menariknya, diet rumput murni ini sering kali menghasilkan aroma daging yang lebih kuat, cenderung earthy, atau bagi sebagian orang dirasa agak prengus.

Sebaliknya, sapi yang diberi pakan biji-bijian (grain-fed) seperti jagung atau ampas tahu di tempat penggemukan (feedlot) biasanya memiliki aroma daging yang lebih netral dan manis karena tumpukan lemak putihnya yang gurih.

2. Usia Sapi Saat Disembelih

Usia hewan merupakan salah satu faktor biologis terbesar dalam menentukan tekstur dan aroma daging. Sapi yang disembelih pada usia tua (misalnya sapi perah yang sudah tidak produktif atau sapi kerja) memiliki akumulasi senyawa kimia dalam jaringan lemaknya yang jauh lebih pekat. Senyawa-senyawa seperti skatole dan indole yang menumpuk selama bertahun-tahun di dalam tubuh sapi tua inilah yang menjadi penyebab bau prengus pada daging sapi yang sangat pekat dan sulit dihilangkan.

3. Jenis Kelamin dan Pengaruh Hormon

Sapi jantan dewasa yang tidak dikebiri (intact bulls) memproduksi hormon testosteron dalam jumlah tinggi. Hormon ini memicu munculnya fenomena yang disebut boar taint atau bull taint, yaitu aroma khas maskulin yang sangat tajam dan cenderung prengus pada otot dan lemaknya. Oleh karena itu, industri daging komersial biasanya lebih memilih sapi betina atau sapi jantan yang sudah dikebiri untuk memastikan aroma daging tetap lembut dan disukai konsumen.

Kesalahan dalam Proses Penyembelihan dan Penanganan

Selain faktor dari dalam tubuh sapi itu sendiri, kontaminasi dan kesalahan manusia saat proses pasca-panen juga memegang peranan besar dalam menciptakan aroma yang tidak diinginkan.

4. Tingkat Stres Sapi Sebelum Disembelih

Kesejahteraan hewan (animal welfare) sebelum penyembelihan ternyata berdampak langsung pada kualitas daging di atas piring kita. Jika sapi mengalami stres berat, kelelahan, atau ketakutan sebelum disembelih, cadangan glikogen dalam ototnya akan terkuras habis.

Kondisi ini menyebabkan tingkat keasaman (pH) daging setelah disembelih tetap tinggi (di atas 6,0). Daging dengan pH tinggi ini dikenal sebagai daging DFD (Dark, Firm, Dry). Daging jenis ini memiliki daya ikat air yang tinggi, cepat membusuk, mudah ditumbuhi bakteri, dan mengeluarkan aroma prengus akibat pembusukan protein yang lebih awal.

5. Kontaminasi Silang Selama Proses Pengulitan

Saat proses penyembelihan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), kulit dan bulu sapi sering kali kotor oleh tanah, kotoran, atau urine. Jika pisau yang digunakan untuk menguliti sapi langsung digunakan untuk memotong daging tanpa dibersihkan terlebih dahulu, maka kotoran dan bakteri akan berpindah ke daging. Kontaminasi urine atau feses yang menempel pada daging inilah yang memicu bau prengus yang sangat menusuk hidung.

Kondisi Penyimpanan dan Pertumbuhan Mikroorganisme

Terkadang, daging sapi keluar dari tempat jagal dalam kondisi yang sangat baik, namun berubah menjadi bau setelah sampai di tangan konsumen atau pedagang eceran. Mengapa hal ini bisa terjadi?

6. Fluktuasi Suhu Penyimpanan (Cold Chain yang Rusak)

Daging sapi adalah bahan pangan yang sangat mudah rusak (perishable food). Jika daging dibiarkan berada di suhu ruangan (antara 4°C hingga 60°C) selama lebih dari dua jam, bakteri pembusuk akan berkembang biak secara eksponensial. Bakteri-bakteri ini memecah asam amino dalam daging dan menghasilkan gas-gas berbau busuk seperti hidrogen sulfida dan amonia, yang sering disalahartikan sebagai bau prengus alami.

7. Efek Freezer Burn dan Oksidasi Lemak

Menyimpan daging di dalam freezer memang bisa menghentikan pertumbuhan bakteri, tetapi tidak menghentikan proses kimiawi secara total. Jika daging tidak dibungkus dengan rapat (kedap udara), udara dingin di dalam freezer akan menguapkan kadar air pada permukaan daging, menyebabkan fenomena freezer burn.

Selain itu, oksigen yang kontak langsung dengan lemak sapi akan menyebabkan oksidasi lipid. Lemak yang teroksidasi ini akan mengeluarkan aroma tengik dan prengus yang sangat tidak enak saat daging dicairkan kembali.

Poin Penting Perbedaan Karakteristik Aroma Daging Sapi

Untuk membantu Anda membedakan kondisi aroma daging sapi, berikut adalah beberapa poin karakteristik berdasarkan faktor penyebabnya:

Penyebab: Pakan Rumput (Grass-Fed)

Karakteristik Aroma: Terasa seperti aroma tanah, padang rumput, atau herbal yang khas.

Intensitas Bau: Sedang, tidak menusuk hidung.

Kelayakan Konsumsi: Sangat aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Penyebab: Sapi Usia Tua / Jantan Dewasa

Karakteristik Aroma: Bau prengus yang pekat, mirip bau tubuh hewan yang kuat, tercium saat daging mulai hangat atau dimasak.

Intensitas Bau: Kuat dan konsisten.

Kelayakan Konsumsi: Aman dikonsumsi, namun membutuhkan teknik memasak yang lama (seperti direbus lama).

Penyebab: Kontaminasi Bakteri (Pembusukan)

Karakteristik Aroma: Bau asam, busuk, amis yang menyengat, disertai dengan perubahan warna daging menjadi keabu-abuan dan tekstur berlendir.

Intensitas Bau: Sangat kuat dan menusuk.

Kelayakan Konsumsi: Tidak aman dan harus segera dibuang.

Cara Ampuh Menghilangkan Bau Prengus pada Daging Sapi

Jika Anda terlanjur membeli daging sapi yang memiliki aroma prengus alami (bukan karena busuk), jangan berkecil hati. Ada beberapa metode dapur yang sangat efektif untuk meredam atau menghilangkan aroma tersebut tanpa merusak cita rasa asli dagingnya.

1. Jangan Mencuci Daging dengan Air Mengalir

Ini adalah kesalahan klasik yang sering dilakukan. Mencuci daging sapi segar dengan air mengalir justru akan menyebarkan bakteri ke seluruh permukaan daging dan area wastafel Anda. Selain itu, air akan meresap ke dalam serat daging, mengikat senyawa penyebab bau, dan membuatnya semakin prengus saat dimasak. Cukup keringkan permukaan daging dengan menepuk-nepuknya menggunakan tisu dapur bersih.

2. Memanfaatkan Lumuran Jus Lemon, Jeruk Nipis, atau Cuka

Asam sitrat yang terkandung dalam jeruk nipis atau lemon sangat efektif untuk menetralkan senyawa volatil penyebab bau pada daging. Caranya:

Lumuri permukaan daging sapi dengan air perasan jeruk nipis secukupnya.

Diamkan selama 10 hingga 15 menit di dalam lemari es.

Bilas sedikit dengan tisu dapur sebelum daging dibumbui.

Efek sampingnya, asam juga membantu mengempukkan serat daging yang keras.

3. Menggunakan Parutan Nanas atau Daun Pepaya

Jika Anda menghadapi daging dari sapi tua yang tidak hanya bau prengus tetapi juga alot, metode ini adalah solusi ganda yang sempurna. Enzim bromelain pada nanas dan enzim papain pada daun pepaya dapat memecah protein penyebab bau sekaligus melembutkan jaringan ikat daging. Namun, jangan mendiamkannya terlalu lama (maksimal 10-15 menit) agar daging tidak hancur dan berubah menjadi bubur.

4. Teknik Blanching (Perebusan Awal)

Teknik ini sangat sering digunakan dalam masakan Asia. Sebelum daging sapi diolah menjadi rendang, soto, atau sup, rebuslah daging dalam air mendidih selama 5 hingga 10 saja. Selama proses ini, kotoran, sisa darah, dan busa-busa putih yang membawa aroma prengus akan keluar ke permukaan air. Buang air rebusan pertama tersebut, tiriskan daging, lalu rebus kembali dengan air baru untuk membuat kaldu yang bersih dan harum.

5. Memaksimalkan Penggunaan Rempah-Rempah Aromatik

Langkah terakhir yang paling menyenangkan adalah menutup aroma prengus dengan racikan bumbu yang kaya. Penggunaan rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, serai, bawang putih, ketumbar, cengkih, dan kayu manis tidak hanya menyamarkan penyebab bau prengus pada daging sapi, tetapi juga memberikan lapisan rasa yang mendalam dan lezat pada masakan Anda.

Kesimpulan

Aroma kurang sedap atau bau prengus pada daging sapi tidak selalu menjadi indikator bahwa daging tersebut telah rusak atau tidak layak makan. Sering kali, fenomena ini hanyalah hasil dari faktor alami seperti pola makan sapi, usia terpotong, pengaruh hormon, hingga stres sebelum penyembelihan.

Dengan memahami berbagai aspek yang melatarbelakangi aroma tersebut, kita dapat menjadi konsumen yang lebih cerdas dalam memilih daging di pasar. Pastikan Anda selalu membeli daging dari sumber yang terpercaya dan higienis, serta menerapkan teknik penyimpanan yang benar di rumah. Jika daging yang Anda miliki mengeluarkan aroma prengus alami, terapkanlah tips-tips pengolahan di atas menggunakan bahan-bahan dapur sederhana agar hidangan daging sapi Anda tetap menggugah selera dan bebas dari aroma mengganggu.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua