Laju IHSG Berpotensi Lanjutkan Tren Rebound pada 11 Juni 2026
JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG memiliki potensi besar untuk meneruskan tren penguatan pada sesi perdagangan Kamis, 11 Juni 2026 menuju level psikologis 6.000.
Laju positif bursa domestik diperkirakan tetap bertahan setelah pada sesi penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, berhasil melonjak sebesar 2,71 persen hingga mendarat di posisi 5.902,37.
Adanya dorongan positif bagi pasar modal dipengaruhi oleh menguatnya nilai tukar rupiah, penurunan harga minyak mentah dunia, serta meningkatnya kepercayaan pelaku pasar atas kebijakan penanganan gejolak ekonomi.
Melalui perpaduan iklim investasi global dan domestik yang berangsur membaik, laju indeks dinilai masih mempunyai ruang gerak yang cukup longgar untuk menguji batas atas baru.
"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang menguji level psikologis di level Rp6.000,"
Pada akhir perdagangan tengah pekan kemarin, seluruh sektor saham terpantau kompak melaju di zona hijau dengan pertumbuhan tertinggi dipimpin oleh bidang transportasi sebesar 4,51 persen.
Kenaikan yang merata di berbagai sektor ini mengindikasikan bahwa gairah aksi beli para pelaku pasar mulai pulih pasca mengalami tekanan bertubi-tubi selama beberapa hari terakhir.
Kondisi seirama juga terjadi di pasar valuta asing, di mana nilai mata uang Garuda mencatatkan performa gemilang dengan menguat 0,63 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS.
Kondisi pergerakan kurs yang cenderung stabil tersebut dinilai menjadi salah satu pemicu utama yang menyokong perbaikan minat transaksi di lantai bursa.
Sebelumnya, bank sentral secara mengejutkan mengambil kebijakan untuk menaikkan tolok ukur suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga menyentuh level 5,50 persen.
Langkah penyesuaian tersebut dibarengi dengan kenaikan bunga fasilitas simpanan menjadi 4,50 persen serta untuk instrumen pinjaman ikut terkerek ke posisi 6,25 persen.
Kebijakan moneter tersebut diterapkan sebagai strategi lanjutan dalam mengawal ketahanan nilai rupiah di tengah tingginya dinamika geopolitik, khususnya dampak dari konflik Timur Tengah.
Pengetatan ini sekaligus diposisikan sebagai langkah mitigasi agar tingkat inflasi nasional tetap berada dalam batas target yang telah diproyeksikan.