Respons Kuat BI Rate Naik 25 Bps Mampu Mendorong Penguatan Pasar Saham

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Rabu, 10 Juni 2026
Respons Kuat BI Rate Naik 25 Bps Mampu Mendorong Penguatan Pasar Saham
Ilustrasi Bank Indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia telah memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps hingga kini bertengger di level 5,5%. Kebijakan penyesuaian tersebut juga diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, serta suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps hingga menyentuh angka 6,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan bahwa langkah pengetatan moneter secara mendadak tersebut dipicu oleh kondisi depresiasi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus merosot tajam. Penurunan nilai tukar domestik tersebut diakui telah melampaui dari kalkulasi awal yang diperkirakan oleh bank sentral.

"Dalam berbagai evaluasi hari ini kami melihat, lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kami proyeksikan dulu," ucap Perry usai menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI.

Melalui ketetapan moneter ini, bank sentral menargetkan agar nilai tukar rupiah dapat berjalan stabil dan bergerak ke arah penguatan. Di samping itu, penyesuaian suku bunga acuan tersebut diproyeksikan mampu merangsang kembalinya modal asing ke pasar domestik setelah beberapa waktu terakhir mengalami fenomena capital outflow.

"Kenaikan BI Rate ini untuk menarik masuknya investasi portfolio asing karena sejak April-Mei itu SBN-SRBI outflow sehingga kami perlu menaikkan BI Rate agar rupiahnya menguat, stabil dan inflasinya dan inflasinya tahun depan tetap dalam sasaran," terang Perry.

Langkah strategis bank sentral ini turut menuai respons positif dari pihak pemerintah. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memandang keputusan penyesuaian suku bunga acuan tersebut sebagai opsi yang sangat tepat guna memproteksi stabilitas ekonomi nasional sekaligus membentengi pasar dari volatilitas global.

Menurut pandangannya, reaksi para pelaku pasar terhadap regulasi moneter tersebut menunjukkan indikator yang bagus. Hal ini tercermin dari laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sukses mendarat kembali pada zona hijau, dibarengi dengan nilai tukar mata uang domestik yang mulai berangsur menguat.

"BI rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Dengan BI rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian Rupiah juga sedikit menguat," ujar Airlangga di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat.

Pada penutupan sesi perdagangan, performa IHSG dilaporkan melesat sebanyak 404,51 poin menuju ke posisi 5.746,64 atau mengalami pertumbuhan sebesar 7,52%. Nilai tukar rupiah pun terpantau menunjukkan keperkasaan terhadap dolar AS dengan mata uang asing tersebut turun sebanyak 129,50 poin ke tingkat Rp 18.058.

Airlangga menekankan bahwa pemeliharaan stabilitas fundamental ekonomi nasional senantiasa menjadi fokus utama yang diakselerasi oleh pemerintah. Ketahanan makroekonomi domestik dinilai masih berada dalam performa yang solid, baik dilihat dari indikator kinerja ekspor maupun instrumen makro lainnya.

"Jadi respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI rate ini cukup baik. Oleh karena itu, tentu kami terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi, karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro," terang Airlangga.

Dirinya sekaligus menyanggah pandangan yang menilai bahwa akselerasi peningkatan suku bunga acuan ini terkesan diputuskan secara terburu-buru lantaran di luar dari jadwal berkala. Penyesuaian ini justru memperlihatkan fleksibilitas serta kegesitan otoritas dalam mengantisipasi dinamika pasar keuangan global yang fluktuatif.

"Karena ini memang dibutuhkan, market membutuhkan signal yang kuat. Kenaikan BI rate 25 basis point itu market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang," jelas Airlangga.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua