IHSG Terancam Uji Level 5.500 Akibat Risiko Fiskal dan Rupiah

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 08 Juni 2026
IHSG Terancam Uji Level 5.500 Akibat Risiko Fiskal dan Rupiah
Ilustrasi IHSG, Sumber: bisnis.espos.id

JAKARTA - Tekanan terhadap pasar keuangan domestik diperkirakan masih berlanjut pada pekan depan.

Setelah anjlok 4,2 persen dalam sepekan dan ditutup di level 5.594,7 pada perdagangan Jumat (5/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguji level psikologis 5.500 seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, stabilitas nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian kebijakan.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan seluruh sektor saham berakhir di zona merah pada akhir pekan.

Koreksi terdalam terjadi pada sektor transportasi yang turun 5,97 persen, mencerminkan aksi jual yang meluas di hampir seluruh lini pasar.

Tekanan terhadap IHSG dinilai masih didominasi sentimen domestik. Pelaku pasar merespons negatif sejumlah isu yang berkembang, mulai dari rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut.

"Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,"

Selain faktor regulasi, pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah. Realisasi APBN hingga Mei 2026 dilaporkan mengalami defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat defisit Rp20,9 triliun atau 0,09 persen terhadap PDB.

Meski demikian, posisi tersebut masih berada di bawah target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB. Dengan kata lain, realisasi hingga Mei baru mencapai sekitar 26 persen dari target defisit sepanjang tahun.

Rupiah ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar Amerika Serikat pada akhir pekan. Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah nilai tukar rupiah dan memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia dapat mengambil langkah tambahan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar mulai menantikan sejumlah indikator ekonomi penting yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Data cadangan devisa Mei 2026 dijadwalkan terbit pada Senin (8/6/2026), disusul data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 pada Rabu (10/6/2026), serta penjualan ritel April 2026 pada Kamis (11/6/2026).

Ketiga indikator tersebut akan menjadi petunjuk awal mengenai kekuatan permintaan domestik dan kemampuan ekonomi nasional menghadapi tekanan eksternal maupun sentimen pasar yang sedang memburuk.

Sebagai informasi, level 5.500 merupakan area psikologis penting bagi IHSG. Jika level tersebut ditembus, pasar berpotensi memasuki fase koreksi yang lebih dalam dan meningkatkan tekanan terhadap aset-aset domestik lainnya.

Pada saat yang sama, kombinasi pelemahan rupiah dan meningkatnya defisit fiskal sering menjadi perhatian investor global karena berkaitan dengan persepsi risiko terhadap perekonomian suatu negara.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebelumnya menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus belasan juta Single Investor Identification (SID), menandakan keterlibatan masyarakat yang semakin besar terhadap pergerakan pasar keuangan.

Dari sisi teknikal, tekanan terhadap IHSG dinilai belum berakhir. Indeks diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren penurunan menuju rentang 5.395 hingga 5.412.

Area tersebut berpotensi menjadi target berikutnya karena sekaligus menutup gap yang terbentuk sebelumnya serta berada di sekitar rata-rata pergerakan jangka panjang atau moving average (MA) 200 bulanan yang sering dijadikan acuan investor institusi.

Untuk perdagangan pekan depan, ada sejumlah saham yang dinilai masih menarik untuk dicermati, yaitu: ANTM BRMS MBMA DAAZ

Pergerakan IHSG pada pekan ini diperkirakan akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap data cadangan devisa, tingkat keyakinan konsumen, dan penjualan ritel domestik.

Selain itu, perhatian investor juga akan tertuju pada langkah Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua