Kurs Rupiah Melemah hingga Capai Rp18.157 per Dolar AS di Awal Pekan

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 08 Juni 2026
Kurs Rupiah Melemah hingga Capai Rp18.157 per Dolar AS di Awal Pekan
Ilustrasi Rupiah Menurun, Sumber: ceknricek.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Senin (08/06/2026).

Hingga sekitar pukul 10.00 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp18.157,7 per dolar AS.

Posisi ini menandakan penurunan sebesar 152,1 poin atau sekitar 0,84% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya, saat rupiah berada di posisi Rp18.005,6 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan pada kurs domestik masih berlanjut di awal pekan.

Berdasarkan data pasar, pergerakan harian rupiah berada dalam kisaran Rp17.984,1 hingga Rp18.159,3 per dolar AS.

Mata uang Indonesia tampak semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan sempat menyentuh titik terlemahnya pagi ini.

Pada pembukaan perdagangan, kurs USD/IDR sebenarnya dimulai stabil di level Rp18.005,6 per dolar AS, sama dengan penutupan sebelumnya.

Namun, penurunan tidak terhindarkan seiring melonjaknya permintaan terhadap mata uang negara tersebut.

Tekanan terhadap mata uang nasional juga tercermin dalam pergerakan jangka menengah hingga panjang.

Dalam satu minggu terakhir, dolar AS menguat 1,62% terhadap rupiah.

Sementara dalam satu bulan terakhir, penguatannya mencapai 4,57%.

Untuk periode tiga bulan, dolar AS tercatat menguat sebesar 7,42%.

Dalam enam bulan terakhir, penguatan naik hingga 8,80%.

Sedangkan dalam kurun waktu satu tahun terakhir, kenaikannya mencapai sekitar 11,58%.

Sepanjang 52 minggu terakhir, rentang nilai tukar bergerak di kisaran Rp16.085 hingga Rp18.159,3 per dolar AS.

Level tertinggi yang dicapai hari ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah dalam setahun terakhir.

Kondisi ini menegaskan bahwa mata uang domestik masih terbeban, sementara dolar AS terus bergerak menguat.

Pergerakan ke depan akan tetap dipengaruhi oleh situasi ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, aliran modal asing, serta sentimen terhadap ekonomi dalam negeri.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua