Rupiah Diprediksi Melemah ke 19.000 Akibat Keraguan Investor Asing

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Jumat, 05 Juni 2026
Rupiah Diprediksi Melemah ke 19.000 Akibat Keraguan Investor Asing
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS, Sumber: (NET).

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot diprediksi terus melemah hingga mendekati level psikologis 19.000 per dolar AS pada pekan depan, jika sentimen negatif terus berlanjut. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 80 poin atau 0,46 persen ke level 18.049 per dolar AS.

Kondisi rapuhnya pergerakan rupiah bukanlah peristiwa baru. Pemerintah sebelumnya telah melakukan berbagai upaya stabilisasi, mulai dari menjaga surplus neraca perdagangan, mendorong penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri, memperbaiki iklim investasi, hingga memperluas kerja sama swap bilateral.

Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menopang rupiah di tengah tekanan eksternal yang besar.

Pasalnya, investor global saat ini masih belum sepenuhnya percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia, sehingga pemerintah diminta terus membangun optimisme dan memberikan rasa aman kepada pelaku pasar.

“Rapuhnya rupiah ini bukan peristiwa baru. Pemerintah sebelumnya mencoba mengatasi dengan memperbanyak suplai dollar di tanah air seperti surplus neraca perdagangan dan program penyimpanan DHE di dalam negeri, memperbaiki perizinan dan iklim usaha untuk menarik investor asing, memperbanyak kerja sama swap bilateral dan sebagainya,” ujar Ariston.

“Tapi ternyata kejadian baru-baru ini menunjukkan apa yang sudah dilakukan belum cukup. Rupiah mudah goyah dan tidak bisa meredam isu eksternal yang mendorong pelarian dollar AS ke luar negeri,” paparnya.

“Jadi investor luar masih belum percaya penuh dengan ekonomi Indonesia. Pemerintah tentunya harus memberikan rasa aman ke rakyatnya dan menebarkan ekspektasi positif mengenai perekonomian Indonesia. Kalau pemerintah ikut menyuarakan hal negatif, sentimen akan semakin negatif,” pungkasnya.

Salah satu pemicu utama pelemahan saat ini adalah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang mengganggu pasokan minyak dunia.

Hal ini memicu lonjakan harga energi global, yang mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

“Pemicu utama adalah kisruh AS-Iran yang mengganggu suplai minyak sehingga harga minyak meroket dan membebani perekonomian global. Ini menimbulkan kekhawatiran di pasar yang mendorong pembelian aset dollar AS sebagai aset safe haven sehingga dollar AS menguat terhadap nilai tukar lainnya, termasuk rupiah,” lanjut dia.

Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari faktor domestik, yaitu:

Kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit anggaran negara atau APBN.

Isu evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia yang memicu keluarnya dana asing.

Peningkatan kebutuhan dolar AS pada periode Mei hingga Juni 2026 untuk repatriasi dividen.

Pembayaran utang luar negeri oleh korporasi dan institusi domestik.

Sentimen negatif dari kasus hukum yang melibatkan mantan pejabat terkait program MBG.

“Dan kebetulan di dalam negeri, pasar khawatir terhadap defisit anggaran RI karena program-program yang memakan anggaran tinggi. Selain itu, peristiwa MSCI yang juga memicu asing keluar dari pasar,” katanya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua