IHSG Tertekan Hari ini Ada 12 Saham Masuki Periode Cum Dividen
JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik kembali berada di bawah tekanan yang cukup signifikan pada pembukaan periode Juni 2026.
Walaupun demikian, para pemodal masih berkesempatan memperoleh imbal hasil dari pembagian keuntungan yang dilakukan oleh sejumlah emiten.
Tepat pada Kamis, 4 Juni 2026, terdapat 12 saham yang dijadwalkan memasuki batas akhir periode cum dividen.
Di antara jajaran saham tersebut, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) bersiap mengucurkan dividen tunai dengan nilai Rp80 per lembar saham atau setara Rp8.000 untuk tiap satu lot.
Tidak ketinggalan, saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) juga menawarkan keuntungan sebesar Rp125,6 per lembar saham kepada para pemegang sahamnya.
Masa cum dividen sendiri merupakan batas hari terakhir bagi investor untuk memiliki saham tertentu agar tetap berhak mendapatkan pembagian keuntungan.
Maka dari itu, para pemburu dividen harus menyelesaikan transaksi pembelian saham paling lambat pada tanggal cum dividen dan menyimpannya hingga hari pencatatan resmi.
Berbagai perusahaan dari sektor yang beragam, mulai dari perkebunan kelapa sawit, pertambangan batu bara, hingga penyedia gas, dijadwalkan melangsungkan cum dividen tunai pada 4 Juni 2026.
Proses pendistribusian dana keuntungan ini seluruhnya akan direalisasikan secara bertahap sepanjang bulan Juni 2026.
Berikut adalah rincian emiten yang menjadwalkan cum dividen pada Kamis, 4 Juni 2026:
AADI : US$ 0,02568 per saham
BISI : Rp26 per saham
EKAD : Rp9 per saham
GJTL : Rp80 per saham
INCI : Rp20 per saham
MAHA : Rp12 per saham
NRCA : Rp40 per saham
PGAS : Rp125,61 per saham
PSGO : Rp6 per saham
SMAR : Rp270 per saham
SMCB : Rp36,52 per saham
TAPG : Rp91 per saham
Seorang Managing Director Research dari sebuah lembaga sekuritas menjelaskan bahwa daya tarik utama dari saham pembuat keuntungan biasanya diukur melalui rasio dividend yield.
Menurut pandangannya, beberapa emiten saat ini mampu menyajikan potensi yield yang berada di atas rata-rata pasar, yang mana rata-rata pasar umumnya bergerak pada kisaran 3% sampai 5%.
Aktivitas perdagangan saham PGAS pun kini tengah menyedot perhatian para pelaku pasar setelah perseroan menetapkan alokasi sekitar 80% dari total laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen tunai.
Apabila mengacu pada posisi harga saham PGAS yang bertengger di level Rp1.780 per lembar pada sesi penutupan perdagangan 3 Juni 2026, maka proyeksi dividend yield untuk saham ini diestimasi mampu menyentuh angka berkisar 7,05%.
Pada kesempatan berbeda, Head of Research & Chief Economist dari sebuah perusahaan sekuritas berpendapat bahwa momentum musim pembagian keuntungan ini bisa menyuntikkan sentimen positif bagi laju pasar saham.
Namun, arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan dinilai masih akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal yang dominan.
Faktor-faktor penentu tersebut meliputi aliran modal masuk dari investor asing, agenda rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.
Seorang Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia turut mengingatkan para investor agar tidak tergesa-gesa mengoleksi aset hanya karena tergiur oleh jadwal cum date yang sudah dekat.
Berdasarkan analisisnya, harga instrumen saham biasanya memiliki kecenderungan untuk terkoreksi saat memasuki masa ex-date, dengan besaran penurunan yang minimal setara dengan nilai dividen teoritis yang didistribusikan.
Oleh karena itu, para pelaku pasar sangat disarankan untuk bertindak lebih selektif dengan memilih saham yang ditopang oleh fundamental bisnis yang kuat.
Selain itu, penting juga memperhatikan tingkat likuiditas yang tinggi serta rekam jejak yang konsisten dalam membagikan sisa hasil usaha kepada para pemegang saham.
Dalam menjalankan strategi perdagangan taktis jangka pendek, analis memberikan rekomendasi agar para pelaku pasar mulai mencicil beli saham bidikan sejak dua minggu hingga tujuh hari menjelang tanggal cum date.
Di samping strategi tersebut, para pemilik modal juga diminta untuk tetap waspada terhadap ancaman jebakan dividend trap.
Fenomena jebakan ini rawan melanda saham-saham yang performa finansial serta prospek bisnisnya sedang mengalami penurunan, sekalipun menawarkan rasio dividend yield yang terlihat menggiurkan.
Apalagi aktivitas pembelian komoditas batu bara dari sejumlah mitra dagang internasional saat ini dikabarkan tengah melambat akibat sikap pasar yang cenderung wait and see.