Geopolitik Global dan Data Domestik Tekan Pergerakan Rupiah
JAKARTA - Pergerakan rupiah diproyeksikan masih akan naik turun pada aktivitas pasar hari ini setelah sempat mencatatkan penurunan di penutupan perdagangan yang lalu.
Mata uang Indonesia kemarin terpangkas sebesar 0,19 persen atau turun sebanyak 34 poin, sehingga berada di posisi Rp17.839 per dolar Amerika Serikat. Di waktu yang bersamaan, posisi indeks mata uang Negeri Paman Sam tersebut terpantau terkoreksi tipis sebesar 0,06 persen menuju angka 99,13.
Kondisi pasar yang memicu tekanan bagi mata uang lokal dipengaruhi oleh ketidakpastian seputar eskalasi konflik politik antarkawasan di tingkat global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan proses diskusi bersama Iran terus berjalan, sedangkan pihak otoritas Teheran mengklaim telah membekukan proses perundingan tersebut.
Dalam pernyataan publiknya, Trump menyebutkan bahwa ia tidak mempermasalahkan jika dialog tersebut menemui jalan buntu. Namun, sesaat setelah itu, dirinya menuliskan pesan di platform digital bahwa pembicaraan dengan Iran tetap berlangsung demi tercapainya kesepakatan damai.
Langkah ini diharapkan mampu memperlama masa penghentian kontak senjata sekaligus memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam kurun waktu satu pekan ke depan.
"Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran,"
Beralih ke situasi di dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati perkembangan beberapa rilis data perekonomian. Badan Pusat Statistik memublikasikan angka inflasi tahunan berada di level 3,08 persen untuk periode Mei 2026.
Sementara itu, catatan Indeks Harga Konsumen juga mengalami pergeseran ke atas dari angka 111,09 pada bulan April 2026 menjadi 111,40 pada bulan Mei 2026.
Pada bidang produksi, performa manufaktur tanah air yang tercermin lewat Purchasing Managers' Index merangkak naik ke posisi 50,0 pada Mei 2026, setelah sempat merosot ke area kontraksi di angka 49,1 pada bulan April 2026.
"Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi,"
Memperhatikan dinamika sentimen yang berkembang di bursa, nilai tukar domestik diperkirakan berpotensi melanjutkan tren koreksi pada perdagangan selanjutnya.
"Untuk perdagangan besok [Rabu], mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840 sampai Rp17.900,"