IHSG Berpotensi Bergerak Sideways di Rentang 6.000 Hingga 6.300

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Selasa, 02 Juni 2026
IHSG Berpotensi Bergerak Sideways di Rentang 6.000 Hingga 6.300
Ilustrasi IHSG (sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi akan bergerak mendatar pada perdagangan hari ini di kisaran level 6.000 sampai 6.300. Proyeksi ini muncul setelah indeks mengalami penurunan tipis sebesar 0,05 persen menuju level 6.127 pada penutupan perdagangan Jumat lalu.

Pada sesi transaksi sebelumnya, indeks sempat merangkak naik hingga menyentuh angka 6.230 yang didorong oleh momentum penataan ulang indeks MSCI untuk periode Mei 2026. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI terus menunjukkan pembalikan arah menuju pivot, sementara grafik histogram negatif pada MACD terpantau makin mengecil.

Para pelaku pasar kini tengah memperhatikan pemberlakuan regulasi pengiriman komoditas ke luar negeri lewat PT Danantara Sumber Daya Indonesia yang sudah resmi berjalan sejak awal Juni 2026. Aturan baru ini menjadi fase peralihan yang mengharuskan para pelaku ekspor untuk mendaftarkan seluruh aktivitas perdagangan internasional mereka lewat lembaga tersebut.

Laporan riset menyatakan bahwa pemodal akan terus melihat keterbukaan dari penerapan regulasi ini serta efeknya terhadap profitabilitas perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang komoditas.

Fokus pelaku pasar juga terarah pada langkah pemerintah yang berencana mengucurkan stimulus perpajakan bagi para eksportir yang menyimpan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam di dalam negeri. Keringanan ini berupa pemotongan nilai Pajak Penghasilan dengan besaran yang disesuaikan pada durasi penyimpanan modal, bahkan nilainya bisa menyentuh 0 persen.

Aturan baru ini dianggap menguntungkan para pelaku ekspor karena mampu memangkas kewajiban pajak, memberikan penawaran bunga yang bersaing, serta membuka peluang penggunaan devisa tersebut sebagai jaminan pinjaman. Bagi sektor perbankan, regulasi ini berpotensi mendatangkan cadangan valuta asing baru sekaligus memperkuat kondisi likuiditas.

Terkait kalender data ekonomi, pasar sedang menanti pengumuman angka inflasi periode Mei 2026 yang diproyeksikan merangkak naik menjadi 3,1 persen secara tahunan dari posisi 2,42 persen pada bulan April 2026. Untuk perhitungan bulanan, nilai inflasi diperkirakan menguat menuju angka 0,2 persen dari posisi sebelumnya di level 0,13 persen.

Laporan riset tersebut menambahkan bahwa para investor juga menaruh perhatian pada rilis performa neraca perdagangan periode April 2026 yang diperkirakan tetap surplus sebesar US$0,5 miliar, atau melambat dibandingkan dengan capaian Maret 2026 yang menyentuh US$3,32 miliar.

Kondisi Indeks Manufaktur Indonesia untuk periode Mei 2026 juga diprediksi mendarat pada level 49,1, atau mengalami penurunan dari angka 49,5 pada bulan sebelumnya. Parameter ini bakal menjadi acuan penting bagi para pemodal dalam menilai denyut aktivitas sektor produksi di dalam negeri.

Di sisi lain, pergerakan volume penjualan dilaporkan mulai menyusut pada akhir pekan kemarin. Untuk posisi pergerakan indeks saat ini dinilai masih menjadi bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada penandaan hitam.

“Area koreksi yang dapat kami perkirakan berikutnya akan menguji ke 5.899 sekaligus area supportnya,” kata Herditya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua