Investor Soroti Kebijakan Ekspor DSI dan Insentif Pajak DHE SDA
JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan bakal berjalan mendatar atau sideways pada sepanjang perdagangan hari ini. Laju indeks saham lokal tersebut diperkirakan akan berada pada kisaran rentang rentang 6.000 hingga 6.300.
Pada penutupan perdagangan di akhir pekan lalu, indeks saham domestik tersebut tercatat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,05 persen, sehingga membuat posisinya berada di level 6.127.
Sebelumnya, laju indeks sempat merangkak naik hingga menyentuh level 6.230 yang didorong oleh momentum efektifnya proses rebalancing pada indeks MSCI untuk periode Mei 2026.
Jika menilik dari sisi teknikal, indikator Stochastic RSI menunjukkan pergerakan pembalikan arah atau reversal menuju pivot. Di sisi lain, histogram negatif pada indikator MACD terpantau terus mengalami penyempitan.
Para pelaku pasar saat ini tengah memberikan perhatian penuh terhadap pemberlakuan kebijakan ekspor komoditas lewat PT Danantara Sumber Daya Indonesia atau DSI yang sudah mulai berjalan. Langkah ini menjadi fase transisi yang mengharuskan para eksportir untuk menyetorkan laporan aktivitas perdagangan luar negeri mereka.
“Investor akan memantau transparansi pelaksanaan kebijakan tersebut serta dampaknya terhadap kinerja emiten yang terkait dengan sektor komoditas,”
fokus perhatian dari para pemodal di pasar saham juga tertuju pada langkah pemerintah yang berencana menyalurkan stimulus perpajakan. Insentif ini ditujukan bagi para eksportir yang bersedia menyimpan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam atau DHE SDA di dalam negeri.
Fasilitas keringanan tersebut berupa pemotongan tarif Pajak Penghasilan atau PPh yang menjadi lebih rendah. Besaran nominal potongan pajak tersebut akan disesuaikan dengan lamanya durasi penyimpanan dana, bahkan persentasenya bisa menyentuh angka 0 persen.
Penerapan regulasi baru ini dinilai bakal memberikan keuntungan bagi para pelaku ekspor karena mampu memangkas beban kewajiban pajak mereka. Selain itu, para pengusaha juga disuguhkan penawaran tingkat suku bunga yang bersaing sekaligus kesempatan menggunakan dana simpanan tersebut sebagai jaminan pinjaman.
Bagi sektor perbankan, masuknya dana simpanan tersebut berpotensi menambah pasokan valuta asing serta memperkuat ketersediaan likuiditas internal.
Dari sisi publikasi data makroekonomi, para pelaku pasar sedang menantikan pengumuman angka inflasi periode Mei 2026. Data inflasi tahunan tersebut diperkirakan bakal merangkak naik menuju angka 3,1 persen jika dibandingkan dengan pencapaian April 2026 yang berada di level 2,42 persen.
Sementara untuk perhitungan inflasi secara bulanan, angkanya diproyeksikan ikut terkerek naik menjadi 0,2 persen dari realisasi bulan sebelumnya yang berada di level 0,13 persen.
“Pelaku pasar juga menunggu data neraca perdagangan April 2026 yang diproyeksikan mencatat surplus sebesar US$0,5 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus US$3,32 miliar pada Maret 2026,”
Kondisi aktivitas manufaktur di dalam negeri juga ikut dipantau lewat publikasi angka indeks manufaktur atau PMI Indonesia periode Mei 2026 yang diproyeksikan melorot ke level 49,1, setelah sebelumnya sempat bertengger di posisi 49,5.
Di sisi lain, pergerakan volume transaksi pelepasan saham terpantau menunjukkan tren penurunan pada sesi penutupan perdagangan di akhir pekan kemarin.
Posisi dari pergerakan indeks saham domestik saat ini diperkirakan masih menjadi bagian dari gelombang pergerakan teknikal tertentu yang sedang berjalan.
“Area koreksi yang dapat kami perkirakan berikutnya akan menguji ke 5.899 sekaligus area supportnya,”