Harga Perak 12 Mei 2026 Melonjak Tajam Akibat Pelemahan Dolar AS

MO
Moch Febrianto

Editor: Nathasya Zallianty

Selasa, 12 Mei 2026
Harga Perak 12 Mei 2026 Melonjak Tajam Akibat Pelemahan Dolar AS
ILUSTRASI. PERAK (FOTO: NET)

HANOI - Harga perak pada 12 Mei 2026 menunjukkan tren penguatan signifikan di tengah penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), melemahnya nilai tukar dolar AS, serta munculnya proyeksi perubahan kebijakan dari The Fed.

Di Phu Quy Gold, Silver and Gemstone Group, harga perak tercatat berada pada level 3.029.000 VND per ounce untuk harga beli dan 3.123.000 VND per ounce untuk harga jual di wilayah Hanoi.

Berdasarkan hasil survei di berbagai titik perdagangan lainnya di Hanoi, harga domestik perak saat ini berada di angka 2.728.000 VND per ounce (beli) dan 2.758.000 VND per ounce (jual).

Sementara itu, di Kota Ho Chi Minh, nilai perak dipatok sebesar 2.730.000 VND per ounce untuk harga beli dan 2.764.000 VND per ounce untuk harga jual.

Secara global, harga perak dunia saat ini berada pada posisi 2.224.000 VND per ounce (beli) dan 2.229.000 VND per ounce (jual). Di pasar internasional sendiri, perak dikutip pada angka 81,44 dolar AS per ons, atau mengalami kenaikan sebesar 1,13 dolar AS.

Analis logam mulia dari FX Empire, James Hyerczyk, menyatakan bahwa pasar perak baru saja melewati pekan perdagangan terbaik sejak awal tahun ini karena didorong oleh berbagai faktor makroekonomi positif.

James Hyerczyk menyebutkan bahwa banyak investor kerap beranggapan kenaikan harga perak dipicu permintaan aset aman (safe-haven), namun ia menilai evolusi suku bunga di pasar keuangan menjadi faktor yang lebih dominan.

Pakar tersebut menjelaskan bahwa perak merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga saat imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, daya tarik perak justru akan naik drastis.

Kondisi ini diperkuat dengan indeks USD yang melemah di sebagian besar sesi perdagangan karena investor sedang menyesuaikan posisi menjelang rilis data ekonomi penting dan menilai prospek kebijakan Federal Reserve (FED).

Menurut Hyerczyk, pelemahan nilai dolar AS menjadikan perak lebih kompetitif bagi investor pemilik mata uang lain, yang pada akhirnya memicu peningkatan permintaan di pasar global.

Selain itu, turunnya harga bahan bakar ikut mendorong kenaikan harga perak karena biaya energi yang lebih rendah meningkatkan ekspektasi meredanya inflasi, sehingga memberi ruang bagi The Fed menyesuaikan kebijakan.

Para ahli di FX Empire berkeyakinan bahwa perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan April guna memantau prospek inflasi lebih lanjut.

Menurut Hyerczyk, jika inflasi tetap lebih tinggi dari prediksi, imbal hasil obligasi dan dolar AS dapat kembali menguat sehingga menekan harga perak. Sebaliknya, jika inflasi mendingin, dukungan bagi logam mulia ini akan terus berlanjut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua