Rupiah Stagnan di Rp17.446 per Dolar AS pada Perdagangan 12 Mei 2026

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Selasa, 12 Mei 2026
Rupiah Stagnan di Rp17.446 per Dolar AS pada Perdagangan 12 Mei 2026
Ilustrasi Uang Dolar AS dan Rupiah, Sumber (NET).

JAKARTA - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau tidak bergerak dan dibuka pada angka Rp17.446 per dolar Amerika Serikat (AS). Mengacu pada data Bloombergtechnoz, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia berada di posisi 97,96 pada 12 Mei 2026.

Kondisi pasar global turut memperlihatkan harga minyak mentah yang bertahan di level US$104 per barel. Keadaan ini memicu dinamika beragam pada mata uang Asia, dengan won Korea Selatan mencatat pelemahan paling dalam mencapai 0,47%.

Penurunan won disebabkan oleh prediksi kenaikan tingkat pengangguran di Korea Selatan ke angka 2,9% menyusul gangguan pasokan industri akibat konflik di Timur Tengah. Selain won, dolar Singapura turut melemah 0,09%, disusul yen Jepang 0,06%, dan yuan offshore 0,03%.

Dari faktor domestik, fluktuasi nilai tukar Garuda terpengaruh oleh ketidakpastian kebijakan mengenai penundaan pungutan royalti hasil tambang. Pemerintah sebelumnya sudah menyosialisasikan rencana kenaikan tarif royalti mineral sebelum akhirnya diputuskan untuk ditangguhkan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa kebijakan tersebut ditangguhkan. Langkah ini diambil karena pemerintah masih mencari formula terbaik yang mampu menguntungkan seluruh pihak terkait.

Di samping itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan mulai terkikisnya optimisme pada kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Walaupun secara kolektif masih di zona positif, daya beli masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp4 juta mulai terdampak oleh kenaikan harga.

Indeks ekspektasi penghasilan untuk enam bulan mendatang pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta turun ke level 129,2 pada April dari posisi 131,1. Sebaliknya, tren penguatan optimisme justru tampak pada kelompok ekonomi dengan pengeluaran di atas Rp4 juta.

Kegelisahan investor juga meningkat seiring laporan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang menembus Rp240 triliun hingga akhir Maret. Belanja pemerintah pada kuartal I-2026 melonjak tajam hingga 21,81% secara tahunan.

Laju pertumbuhan belanja ini meningkat signifikan jika dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya sebesar 4,55%. Ekspansi fiskal yang masif di tengah ketidakpastian global dianggap meningkatkan beban kebutuhan pembiayaan negara.

Pemerintah dijadwalkan kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) hari ini dengan target angka Rp36 triliun. Di sisi lain, Bank Indonesia juga telah merilis Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebanyak dua kali dalam satu pekan terakhir.

Upaya otoritas fiskal dan moneter dalam menjaring dana melalui utang ini berisiko menjadi lebih mahal. Hal tersebut dikarenakan komitmen imbal hasil yang lebih tinggi dibutuhkan untuk menarik minat investor dalam situasi ekonomi saat ini.

Dilihat dari sisi teknikal, nilai tukar rupiah diprediksi masih memiliki risiko pelemahan pada perdagangan hari ini. Terdapat potensi bagi mata uang Garuda untuk menembus level support di angka Rp17.425 per dolar AS.

Apabila tekanan terus berlanjut, support berikutnya diperkirakan menuju level Rp17.450 per dolar AS. Dalam skenario paling buruk, analisis teknikal memproyeksikan target pelemahan rupiah dapat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Meski demikian, rupiah memiliki level resistance terdekat di posisi Rp17.400 per dolar AS. Jika penguatan berhasil melampaui angka tersebut, maka level resistance selanjutnya terkonfirmasi berada di kisaran Rp17.300 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua