Perak Antam Turun Rp250, Berlawanan dengan Tren Harga Perak Dunia
JAKARTA - Harga perak produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan pada sesi perdagangan Senin (11/5/2026). Pergerakan harga perak Antam hari ini tercatat merosot selaras dengan pelemahan harga emas Antam, meski terpantau berlawanan arah dengan tren harga perak global.
Berdasarkan informasi dari situs resmi logammulia.com, harga perak Antam terkoreksi Rp 250 sehingga berada di level Rp 51.450. Pada hari perdagangan sebelumnya, harga perak Antam masih bertengger di posisi Rp 51.700.
Antam menyediakan berbagai pilihan perak, mulai dari batangan 250 gram, 500 gram, hingga jenis perak butiran murni 99,95%. Untuk perak batangan ukuran 250 gram dijual seharga Rp 13.387.500, sedangkan ukuran 500 gram dipasarkan dengan harga Rp 25.850.000.
Di lain pihak, data dari tradingeconomics.com menunjukkan harga perak dunia justru naik 2,5% ke angka USD 80,32. Sementara itu, harga perak di pasar spot juga menguat 0,7% menuju USD 80,88 per ounce.
Mengenai harga emas, terjadi penurunan pada hari Senin akibat lambatnya progres negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi tinggi akan memaksa suku bunga tetap berada di level tinggi dalam durasi yang lebih lama.
Indeks dolar AS yang menguat turut membuat komoditas logam mulia menjadi lebih mahal bagi pengguna mata uang lainnya. Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menolak respons Iran atas proposal pembicaraan damai dari AS.
Keputusan tersebut memupus harapan akan berakhirnya konflik 10 pekan yang telah merusak wilayah Iran dan Lebanon, serta mengganggu arus lalu lintas di Selat Hormuz.
“Pada dasarnya kami melihat memudarnya harapan akan kesepakatan (perdamaian) yang akan segera terjadi, dan emas merasakan tekanan dari kenaikan harga minyak mentah yang kembali terjadi,” ujar Kepala Analis Pasar di KCM Trade, Tim Waterer.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh masih tertutupnya sebagian jalur Selat Hormuz, sehingga pasokan energi dunia tetap dalam kondisi ketat. Kondisi ini berisiko mengerek inflasi dan meningkatkan potensi kenaikan suku bunga. Walaupun emas sering dianggap sebagai alat lindung nilai inflasi, suku bunga yang tinggi biasanya memberatkan aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen AS periode April untuk membaca arah kebijakan moneter bank sentral. Di sisi lain, produksi emas di China pada kuartal pertama 2026 dilaporkan menurun karena adanya inspeksi keselamatan yang menghentikan operasional sejumlah pabrik peleburan.
“Dalam jangka pendek hingga menengah, kisaran USD 4.400 hingga USD 4.800 masih terlihat sangat mungkin terjadi selama kami tetap berada dalam kebuntuan gencatan senjata tanpa kesepakatan damai ini,” Waterer menambahkan.