Dampak Ketegangan AS dan Iran Seret Rupiah ke Posisi 17.386 Per Dolar

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 11 Mei 2026
Dampak Ketegangan AS dan Iran Seret Rupiah ke Posisi 17.386 Per Dolar
Ilustrasi Kurs Mata Uang(sumber foto: NET)

JAKARTA – Kurs mata uang rupiah pada pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau bergerak defensif dengan penguatan yang tergolong sangat tipis pada pembukaan perdagangan awal pekan ini.

Fenomena ini terjadi di kala para penanam modal mencermati secara saksama dinamika proposal perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tengah menjadi perhatian global.

Rupiah offshore membuka perdagangan dengan fluktuasi rendah 0,01 persen di level Rp17.386/US$ bila dibandingkan dengan posisi tutup pekan lalu menurut laporan pasar terbaru.

Apresiasi mata uang Garuda tersebut kemudian sedikit menanjak menjadi 0,07 persen ke posisi Rp17.374/US$ pada Senin, 11 Mei 2026. Stagnansi ini menandakan sikap waspada pemain pasar.

Situasi ini diakibatkan oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang secara formal menampik usulan perdamaian terbaru yang diajukan oleh pihak Iran kepada pemerintah Amerika Serikat.

Ketegangan akibat penolakan usulan damai tersebut memicu reaksi negatif di pasar global. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia dilaporkan naik 0,14 persen ke posisi 98,03.

Kondisi di pasar energi turut bergejolak yang ditandai dengan lonjakan harga minyak Brent sebesar 3,28 persen menjadi US$104,6 per barel seiring meningkatnya minat terhadap aset aman.

"SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA." Demikian bunyi pernyataan Trump saat merespons proposal tersebut sebagaimana dikutip dalam laporan perkembangan situasi diplomatik tersebut.

Iran sendiri menawarkan melakukan pengenceran pada sebagian uranium yang diperkaya tingkat tinggi serta mengirimkan bagian sisanya ke negara ketiga dalam laporan resminya.

Meski begitu, pihak Iran tetap menuntut jaminan mengenai pengembalian uranium jika proses perundingan menemui kegagalan dan tetap berkeras tidak akan membongkar fasilitas nuklir mereka.

Jason Wong, analis strategi pada Bank of New Zealand, menilai bahwa sikap keras Trump menyeret kondisi pasar menuju mode risk-off yang berdampak pada pergerakan aset.

"Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang kami lihat minggu lalu," kata Jason Wong.

Wong juga mengimbuhkan bahwa tren sentimen negatif tersebut berpotensi terus membayangi aktivitas transaksi awal pekan ini di kawasan Asia bagi banyak pelaku pasar modal.

Dampaknya terlihat jelas dengan terdepresiasinya nilai won Korea Selatan sebesar 0,45 persen dan mata uang yen Jepang sebanyak 0,15 persen pada pembukaan perdagangan hari ini.

Di tengah tekanan faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik juga menjadi pusat perhatian setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan berada pada angka 5,61 persen.

Walaupun angka itu melampaui prediksi awal, dampak dari pertumbuhan tersebut dianggap masih belum terasa kuat pada sektor riil sehingga memicu sentimen yang beragam dari para analis.

Pihak pemerintah mencatat bahwa defisit pada kuartal I-2026 telah mencapai Rp240 triliun. Sebagai langkah mitigasi, Kementerian ESDM mengajukan usulan kenaikan tarif royalti komoditas mineral.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua