Rupiah 8 Mei Berisiko Melemah ke Rp17.500 Akibat Lonjakan Harga Minyak

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Jumat, 08 Mei 2026
Rupiah 8 Mei Berisiko Melemah ke Rp17.500 Akibat Lonjakan Harga Minyak
Nilai Rupiah, BabelInsight (NET).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan tren penguatan pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Fokus utama pasar saat ini tertuju pada kenaikan tajam harga minyak mentah dunia serta pengumuman data cadangan devisa domestik.

Kondisi rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau masih tertahan pada level tinggi di kisaran Rp17.300-an per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, rupiah offshore membuka perdagangan secara stagnan di posisi Rp17.358 per dolar AS.

Walaupun sempat mengalami penguatan tipis 0,09 persen ke angka Rp17.342 per dolar AS, bayang-bayang kenaikan harga minyak tetap menjadi beban berat.

Harga minyak Brent untuk kontrak Juni sempat melonjak hingga 1,96 persen ke level US120,34perbarelsebelumberadadiposisiUS114 per barel pada pagi hari.

Ketegangan geopolitik kembali menjadi pemicu utama menyusul bentrokan antara pasukan AS dan Iran di Selat Hormuz. Insiden tersebut memupuskan harapan pasar akan adanya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa pihaknya berhasil mematahkan serangan Iran yang dianggap tanpa provokasi.

Sebagai bentuk pertahanan, serangan balasan diluncurkan saat kapal perusak rudal melintasi jalur strategis tersebut meski pihak militer AS mengaku tidak menginginkan adanya eskalasi.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memberikan peringatan serius mengenai dampak perang ini terhadap kondisi energi global.

Fatih Birol menyatakan: “Perang telah memangkas pasokan minyak global sekitar 14 juta barel per hari.” Ia juga menambahkan bahwa proses pemulihan produksi setelah konflik mereda tidak akan terjadi secara instan. Menurut pandangannya, pemulihan tersebut akan berlangsung secara bertahap dan memakan waktu.

Di pasar regional, mata uang Asia lainnya menunjukkan tren negatif dengan ringgit Malaysia dan won Korea Selatan yang masing-masing melemah 0,46 persen dan 0,45 persen. Di sisi lain, yen Jepang dan yuan offshore terpantau masih mampu menguat tipis.

Pelaku pasar kini sedang menanti rilis data ekonomi penting dari sejumlah negara di kawasan Asia. Indonesia, India, dan Malaysia dijadwalkan akan mengumumkan angka cadangan devisa terbaru pada hari ini.

Dari pasar global, rilis data tenaga kerja AS nanti malam diprediksi menjadi penentu arah dolar. Jika angka payroll dan upah menunjukkan ekonomi AS tetap solid, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed akan bertahan lebih lama dan menekan mata uang Asia.

Secara domestik, angka cadangan devisa Indonesia akan menjadi tolok ukur kekuatan Bank Indonesia dalam melakukan intervensi pasar. Jika cadangan devisa bulan April tidak tergerus dalam, sentimen terhadap rupiah kemungkinan bisa sedikit membaik.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa rupiah memiliki risiko pelemahan dengan target pertama pada level Rp17.350 per dolar AS. Jika menembus angka tersebut, target pelemahan selanjutnya berada di Rp17.400 dengan support terkuat di posisi Rp17.500.

Sebaliknya, apabila rupiah berhasil mencatatkan penguatan hari ini, level resistance yang perlu dicermati berada pada Rp17.300. Level resistance selanjutnya diperkirakan tertahan di posisi Rp17.200 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua