Proyek Hilirisasi Rp116 Triliun Berpotensi Besar Jika Eksekusi Tepat

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 04 Mei 2026
Proyek Hilirisasi Rp116 Triliun Berpotensi Besar Jika Eksekusi Tepat
Proyek Hilirisasi Rp116 Triliun

JAKARTA – Proyek hilirisasi Rp116 triliun dinilai berpotensi besar jika perencanaan dan eksekusi dilakukan secara matang.

Langkah pemerintah dalam mendorong hilirisasi kembali menjadi sorotan setelah dimulainya proyek besar tahap kedua. Nilai investasi yang mencapai Rp116 triliun menunjukkan ambisi besar dalam penguatan industri nasional.

Pemerintah bersama Danantara telah memulai pembangunan 13 proyek hilirisasi nasional tahap kedua. Proyek tersebut mencakup sektor energi, mineral, dan pertanian dengan komposisi yang beragam.

Sebanyak lima proyek berada di sektor energi. Sementara lima proyek lainnya berada di sektor mineral dan tiga proyek di sektor pertanian.

Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai pentingnya perencanaan yang matang. Ia menekankan bahwa kelayakan ekonomi harus menjadi dasar utama dalam setiap proyek.

“Dengan perhitungan yang tidak matang, bisa jadi proyek-proyek ini tidak menghasilkan return yang layak, bahkan berpotensi menimbulkan kerugian,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menegaskan risiko yang dapat muncul jika perencanaan tidak optimal.

Selain potensi ekonomi, proyek hilirisasi juga dinilai mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Namun dampak tersebut dinilai tidak selalu bertahan dalam jangka panjang.

Pada tahap konstruksi, proyek akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan. Kondisi ini memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di awal pembangunan.

Namun setelah proyek mulai beroperasi, kebutuhan tenaga kerja cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh karakter proyek hilirisasi yang bersifat padat modal.

“Pada fase pembangunan memang banyak tenaga kerja terserap, tetapi setelah proyek berjalan, dampaknya terhadap tenaga kerja tidak sebesar saat awal,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menyoroti keterbatasan dampak jangka panjang terhadap tenaga kerja.

Deni juga menekankan pentingnya peran sektor swasta dalam pengembangan hilirisasi. Keterlibatan swasta dinilai menjadi faktor kunci dalam keberhasilan proyek.

Menurutnya, pemerintah perlu menciptakan efek crowding in agar investasi swasta dapat tumbuh. Sebaliknya, risiko crowding out harus dihindari agar tidak menghambat partisipasi sektor swasta.

Kemampuan proyek dalam menarik investor swasta akan menjadi indikator penting keberhasilan program. Hal ini juga akan menentukan keberlanjutan ekosistem hilirisasi nasional.

Keterlibatan swasta diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang sehat dan kompetitif. Tanpa partisipasi tersebut, proyek berisiko didominasi oleh peran negara.

“Pada akhirnya, kita tidak hanya menginginkan pertumbuhan ekonomi yang besar, tetapi juga dampak yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.

Secara keseluruhan, proyek hilirisasi Rp116 triliun memiliki peluang besar dalam mendorong ekonomi nasional. Namun keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas perencanaan, eksekusi, dan kolaborasi lintas sektor.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua