Wall Street Beragam Jelang Laporan Pendapatan Perusahaan Teknologi Besar

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 04 Mei 2026
Wall Street Beragam Jelang Laporan Pendapatan Perusahaan Teknologi Besar
The Fed

JAKARTA – Wall Street beragam dipengaruhi harga minyak, suku bunga The Fed, dan laporan pendapatan perusahaan teknologi besar.

Pergerakan Wall Street menunjukkan dinamika yang tidak seragam di tengah berbagai sentimen global. Investor mencermati faktor energi, kebijakan moneter, dan laporan kinerja perusahaan teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,12 poin atau 0,57% ke level 48.861,81. S&P 500 melemah 2,82 poin atau 0,04% ke level 7.135,98 sementara Nasdaq Composite naik 9,44 poin atau 0,04% ke level 24.673,24.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, saham energi mencatat kenaikan tertinggi. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah di pasar global.

Sebaliknya, sektor utilitas dan material mengalami tekanan paling dalam. Hal ini mencerminkan adanya rotasi sektor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Saham Robinhood Markets tercatat turun 13,2% setelah gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal pertama. Penurunan ini menjadi salah satu sorotan dalam perdagangan hari tersebut.

Sementara itu, saham perusahaan penyimpanan data menguat setelah adanya proyeksi positif. Seagate Technology melonjak 11,1%, sedangkan SanDisk naik 6,2% dan Western Digital meningkat 5,6%.

Saham Starbucks juga mencatat kenaikan sebesar 8,5%. Kenaikan ini terjadi setelah perusahaan menaikkan perkiraan laba tahunan.

Volume perdagangan saham di bursa Amerika Serikat mencapai 16,37 miliar saham. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata 17,81 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Pergerakan tiga indeks utama sempat bergejolak setelah pernyataan kebijakan Federal Reserve. Keputusan mempertahankan suku bunga menjadi salah satu faktor yang memicu ketidakpastian pasar.

Kebijakan tersebut disebut sebagai keputusan paling kontroversial sejak tahun 1992. Situasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian akibat gejolak di Timur Tengah.

Lonjakan harga minyak mentah menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar. Hal ini terjadi setelah adanya laporan mengenai potensi blokade berkepanjangan terhadap pelabuhan Iran.

Kebijakan tersebut dipicu oleh instruksi Presiden AS Donald Trump kepada pejabat terkait. Langkah ini mengindikasikan adanya tekanan pasokan minyak yang berkelanjutan.

“Semakin lama konflik di Iran berlangsung dan harga energi tetap tinggi, serta ketidakpastian global tetap ada, akan ada ekspektasi bahwa hal itu akan berdampak pada kebiasaan pengeluaran, yang pada suatu titik dan tingkat tertentu akan terlihat pada putaran pendapatan perusahaan berikutnya,” kata Matthew Keator sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menyoroti dampak konflik terhadap ekonomi global.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan adanya pembahasan dengan perusahaan energi besar. Diskusi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar minyak di tengah potensi krisis.

Kenaikan harga energi juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini terjadi saat Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.

Empat perusahaan teknologi besar yakni Amazon, Alphabet, Meta Platforms, dan Microsoft merilis laporan keuangan setelah penutupan pasar. Laporan ini menjadi perhatian utama investor.

Dalam perdagangan lanjutan, saham Alphabet naik lebih dari 3%. Sementara Amazon dan Microsoft turun lebih dari 3% dan Meta turun lebih dari 6%.

Indeks Semikonduktor SE Philadelphia naik 2,4% setelah mencatat kenaikan 45,0% sepanjang tahun ini. Kinerja ini mencerminkan optimisme terhadap sektor teknologi tertentu.

"Tentu saja, angka-angka itu penting," tambah Keator sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini menegaskan pentingnya data kinerja perusahaan.

"Tetapi ini bukan tentang apa yang mereka lakukan pada kuartal lalu, tetapi tentang apa yang mereka lihat ke depan dalam hal pengeluaran modal dan bagaimana AI dapat mempengaruhi model bisnis mereka." sebagaimana dilansir dari berita sumber. Fokus investor kini tertuju pada prospek masa depan perusahaan.

Di sisi ekonomi, pesanan baru untuk barang modal inti melonjak 3,3% pada bulan Maret. Angka ini menjadi peningkatan bulanan terbesar sejak Juni 2020.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua