RI Jaga Target 5,4% Saat Dunia Revisi Pertumbuhan Ekonomi 2026

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 04 Mei 2026
RI Jaga Target 5,4% Saat Dunia Revisi Pertumbuhan Ekonomi 2026
Ilustrasi RI Jaga Target

JAKARTA – Pemerintah Indonesia rupanya tidak ingin terlarut dalam pesimistis meski rentetan lembaga internasional mulai memberikan rapor merah bagi prospek ekonomi global. Keyakinan kuat masih menyelimuti jajaran kementerian bahwa angka pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada tahun 2026 bukan sekadar angan-angan semata.

Sikap percaya diri ini muncul di tengah badai revisi yang dilakukan oleh institusi besar mulai dari IMF hingga Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Ketidakpastian dunia memang nyata, namun pemerintah merasa memiliki kendali yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas di dalam negeri sendiri.

Susiwijono Moegiarso menyatakan bahwa pemerintah tetap menaruh harapan besar pada target yang telah dipatok dalam APBN 2026 meskipun dinamika luar negeri sangat menantang. Sekretaris Kemenko Perekonomian tersebut menyampaikan hal ini secara langsung saat ditemui awak media di tengah sebuah agenda di Djakarta Theater.

"Kami masih optimis ekonomi sampai dengan akhir tahun di tengah dinamika global seperti ini target misalkan pertumbuhan 5,4% kami masih optimis. Sepanjang ini dinamika globalnya masih bisa kami jaga seperti ini ya karena kan kontrolnya tidak di kami," ujar Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso saat ditemui di sela-sela acara di Djakarta Theater, Rabu (15/4/2026), sebagaimana diberitakan oleh sumbernya.

Khusus untuk periode tiga bulan pertama tahun ini, ada indikasi kuat bahwa roda ekonomi akan berputar jauh lebih kencang dari perkiraan sebelumnya. Proyeksi internal menunjukkan angka yang lebih berani, yakni menyentuh level di atas 5,5 persen untuk kuartal pertama tahun 2026.

Optimisme ini tidak muncul dari ruang kosong, melainkan didorong oleh percepatan belanja pemerintah yang difokuskan pada berbagai program stimulus ekonomi. Selain itu, pergeseran momen hari besar keagamaan diyakini menjadi katalisator utama yang memicu lonjakan konsumsi rumah tangga secara masif.

Susiwijono Moegiarso mengungkapkan bahwa momen Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada awal tahun menjadi penggerak penting bagi capaian pertumbuhan ekonomi tersebut. "Demikian juga quarter I kami dapat Ramadan dan Idulfitri yang biasanya di awal quarter II," ujarnya menurut sumber tersebut.

Meski pemerintah tampak sangat yakin, ada data menarik dari Bank Indonesia yang menunjukkan sedikit pergeseran dalam psikologi masyarakat sebagai konsumen utama. Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa indeks keyakinan konsumen sempat mengalami koreksi tipis jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Indeks Keyakinan Konsumen pada bulan Maret tercatat berada di posisi 122,9, yang artinya ada penurunan sekitar 2,3 persen dari posisi kuat di bulan Februari. Namun, penurunan ini bersifat selektif karena kelompok masyarakat dengan penghasilan tertentu justru masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.

Kelompok penghasilan menengah ke bawah tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan IKK yang terjaga meski kelompok atas terlihat lebih berhati-hati dalam berbelanja. Hal ini menciptakan dinamika yang unik dalam struktur ekonomi domestik yang sedang berusaha pulih sepenuhnya dari ketidakpastian.

Penurunan juga terlihat pada ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi di masa depan, yang tercermin dari angka Indeks Ekspektasi Konsumen atau IEK. Data menunjukkan bahwa ekspektasi untuk enam bulan ke depan melandai hingga 4 persen, menandakan adanya sikap waspada dari para pelaku ekonomi.

Menanggapi fenomena tersebut, Susiwijono menilai bahwa naik turunnya angka dalam sebuah survei adalah bagian dari siklus ekonomi yang sangat wajar terjadi. Baginya, yang paling krusial adalah angka tersebut masih bertahan di zona yang sangat aman dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi.

Susiwijono Moegiarso berpandangan bahwa tingkat keyakinan yang tercatat di Mandiri Spending Index dan data lainnya membuktikan bahwa pasar masih tetap merasa percaya diri menghadapi masa depan. "[IKK] itu masih sangat tinggi, artinya kalau fluktuasi itu sangat biasa. Tetapi indeks keyakinan konsumen, Mandiri Spending Index, semuanya masih cukup confident," paparnya sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Situasi menjadi semakin menantang ketika Dana Moneter Internasional atau IMF mengeluarkan laporan terbaru yang mengoreksi angka pertumbuhan Indonesia dari 5,1 menjadi 5 persen. Pemangkasan ini dilakukan IMF dengan mempertimbangkan betapa rapuhnya rantai pasok dan stabilitas dunia akibat konflik bersenjata yang berkecamuk.

Laporan World Economic Outlook menyebutkan bahwa ancaman perang di Timur Tengah telah mengubah peta pertumbuhan ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia. Indonesia tidak bisa benar-benar terisolasi dari dampak kenaikan harga komoditas global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik tersebut.

Sejalan dengan IMF, Bank Dunia pun ikut mengambil langkah serupa dengan mematok angka yang lebih konservatif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 4,7 persen. Revisi ini memang terlihat kecil secara persentase, namun mencerminkan kekhawatiran besar terhadap daya tahan ekonomi kawasan di masa depan.

Bank dunia menggarisbawahi bahwa gejolak perang menjadi faktor utama yang memaksa mereka untuk meninjau kembali proyeksi yang pernah dibuat pada akhir tahun lalu. Laporan East Asia & Pacific Economic Update menegaskan bahwa perlambatan ini merupakan tren yang merata di hampir seluruh wilayah Asia Timur.

Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah secara otomatis akan memberikan tekanan pada struktur biaya produksi dan inflasi di tingkat domestik. Dampak domino inilah yang kemudian disoroti sebagai risiko terbesar yang bisa menghambat laju ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.

Sebelum riuh rendah revisi dari IMF dan Bank Dunia, OECD sudah lebih dahulu mengambil langkah dengan menurunkan prediksi pertumbuhan Indonesia ke angka 4,8 persen. Dalam laporan berkala mereka, terlihat ada penurunan sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan dengan estimasi optimis yang mereka keluarkan sebelumnya.

Meskipun dikepung oleh berbagai revisi negatif dari lembaga kelas dunia, pemerintah Indonesia memilih untuk tetap berdiri tegak dengan target pertumbuhan yang sudah ditetapkan. Strategi menjaga daya beli masyarakat dan mengawal stimulus fiskal tetap menjadi kunci utama agar target 5,4 persen tetap bisa direalisasikan tahun ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua