Harga Emas Tertekan, Sulit Tembus US$ 5.000 Akibat Suku Bunga

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 04 Mei 2026
Harga Emas Tertekan, Sulit Tembus US$ 5.000 Akibat Suku Bunga
Emas Antam

JAKARTA – Harga emas sulit tembus US$ 5.000 karena tekanan suku bunga tinggi dan penguatan dolar AS di tengah konflik global.

Pergerakan harga emas saat ini masih berada dalam tekanan meskipun tensi geopolitik meningkat. Kondisi tersebut justru mendorong kenaikan harga energi dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (29/4) pukul 17.17 WIB, harga emas turun 0,51% menjadi US$ 4.572 per ons troi. Sementara itu, harga perak melemah 0,19% ke level US$ 72,90 per ons troi.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai bahwa kondisi geopolitik menjadi faktor utama penggerak pasar saat ini. Memudarnya ekspektasi perdamaian di Timur Tengah turut memicu kenaikan harga energi global.

"Menurunnya ekspektasi perdamaian di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak yang pada akhirnya memicu inflasi dan memperkuat prospek kenaikan suku bunga," ujar Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tekanan inflasi menjadi faktor penting bagi pergerakan emas.

Tekanan dari sisi suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas sebagai aset non-yielding. Dalam kondisi suku bunga tinggi dan dolar AS yang menguat, daya tarik emas cenderung menurun.

Lukman menjelaskan bahwa kenaikan harga emas yang terjadi sebelumnya belum mencerminkan perubahan tren. Pergerakan tersebut lebih disebabkan oleh technical rebound dan aksi bargain hunting.

Secara teknikal, harga emas dinilai masih berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda dalam waktu dekat.

Untuk jangka pendek pada Mei 2026, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.600 hingga US$ 4.800 per ons troi. Sementara harga perak diproyeksikan berada pada rentang US$ 70 hingga US$ 80 per ons troi.

Dalam jangka menengah, harga emas diperkirakan sulit menembus level psikologis US$ 5.000 per ons troi. Proyeksi ini berlaku jika belum ada perkembangan signifikan terkait kondisi geopolitik.

Lukman memperkirakan harga emas akan bergerak di kisaran US$ 4.400 hingga US$ 4.800 per ons troi. Rentang ini menunjukkan adanya batas atas yang sulit ditembus dalam kondisi saat ini.

Secara historis, emas pernah mengalami koreksi dalam pada beberapa periode sebelumnya. Pada 2020, harga emas turun sekitar 19% dari US$ 2.075 ke US$ 1.680 per ons troi.

Selain itu, pada periode 2011–2013, emas terkoreksi hingga 45% dari US$ 1.920 ke US$ 1.050 per ons troi. Data ini menunjukkan bahwa fluktuasi tajam bukan hal baru dalam pergerakan harga emas.

"Iya itu salah satu siklus emas. Untuk kondisi saat ini, diperkirakan tidak dan tren bullish masih intact," kata Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pernyataan ini mengindikasikan tren jangka panjang masih terjaga.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan menyesuaikan strategi. Pendekatan yang fleksibel dinilai lebih efektif dalam menghadapi dinamika harga.

"Untuk jangka pendek hingga menengah bisa memanfaatkan range trading. Sedangkan jangka panjang, akumulasi saat harga turun," tutupnya sebagaimana dilansir dari berita sumber. Strategi ini dinilai dapat memaksimalkan peluang di tengah ketidakpastian pasar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua