Rekor Baru Kospi di Tengah Upaya AS Buka Blokade Selat Hormuz

AA
Aaina Salsa Bila

Editor: Nathasya Zallianty

Senin, 04 Mei 2026
Rekor Baru Kospi di Tengah Upaya AS Buka Blokade Selat Hormuz
Ilustrasi Rekor Baru Kospi

JAKARTA – Langkah berani pemerintah Amerika Serikat dalam menanggapi kebuntuan logistik di Timur Tengah rupanya menjadi katalis positif bagi pasar modal di kawasan Asia pada pembukaan pekan ini. Investor tampak merespons antusias rencana pembukaan kembali jalur perdagangan internasional yang sempat lumpuh akibat konflik antara Iran dan AS.

Gairah pasar ini terlihat sangat kontras dengan kekhawatiran yang sempat membayangi perdagangan sepanjang bulan lalu. Bursa Asia kompak menguat pada perdagangan pagi ini sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Pergerakan angka di papan perdagangan menunjukkan optimisme yang merata di hampir seluruh indeks utama kawasan. Senin (4/5/2026) pukul 08.21 WIB, indeks Hang Seng dibuka menguat 1,4% ke 26.138,34 menurut sumber tersebut.

Tidak hanya di Hong Kong, lonjakan yang jauh lebih agresif justru terjadi pada pasar saham Taiwan dan Korea Selatan. Selanjutnya indeks Taiex terlihat melesat 2,65% menjadi 39.956,29 dan indeks Kospi melonjak 3,08% ke 6.802,25 sebagaimana diberitakan oleh sumbernya.

Khusus untuk Korea Selatan, pencapaian pagi ini menjadi catatan sejarah baru yang sangat mengesankan bagi para pelaku pasar. Bursa Asia bervariasi dengan saham Korea Selatan naik dan mencapai rekor baru pada perdagangan awal pekan ini, setelah kenaikan bulanan terkuat pada bulan April menurut sumber tersebut.

Sentimen penggerak utama datang dari harapan akan kembalinya kelancaran distribusi barang melalui Selat Hormuz. Sokongan bagi bursa saham Korea Selatan datang karena investor mempertimbangkan ketegangan antara Iran dan AS serta rencana AS untuk membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Presiden AS secara mendadak mengumumkan sebuah inisiatif militer dan diplomatik yang dirancang untuk memecah kebuntuan jalur air tersebut. Melalui media sosialnya, pemimpin negara tersebut menegaskan ambisinya untuk memberikan kepastian bagi kapal-kapal sipil yang terjebak di zona konflik.

"AS akan berupaya untuk "membebaskan" kapal-kapal yang terdampar akibat penutupan Selat Hormuz sejak awal perang Iran," kata Presiden AS Trump, menurut sumber tersebut.

Upaya yang dinamai secara patriotik ini dijadwalkan akan segera beroperasi untuk mengawal pergerakan kapal dagang dari berbagai belahan dunia. "Proyek Kebebasan" ini akan fokus terutama pada upaya mengeluarkan kapal-kapal sipil yang berbendera negara-negara yang tidak berafiliasi dengan konflik dari jalur air yang diperebutkan sebagaimana diberitakan oleh sumbernya.

Skala operasi ini pun tidak main-main karena melibatkan kekuatan militer dalam jumlah yang sangat masif di lapangan. Komando Pusat AS menegaskan bahwa dukungan fisik akan segera dikerahkan untuk memastikan keselamatan navigasi kapal-kapal tersebut.

"Dukungan militer AS untuk Proyek Kebebasan akan mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multi-domain, dan 15.000 anggota militer," kata Komando Pusat AS, sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Dampak dari pengumuman tersebut langsung terasa pada fluktuasi harga komoditas energi dunia yang sebelumnya terus merangkak naik. Ketegangan yang sedikit mereda di Selat Hormuz membuat harga minyak mentah mengalami koreksi yang cukup signifikan pada pagi ini.

Harga minyak turun setelah pengumuman "Proyek Kebebasan" menurut sumber tersebut. Kontrak berjangka minyak jenis WTI untuk pengiriman mendatang kini terkoreksi cukup dalam di bawah level puncaknya.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2026 turun 0,59% menjadi US$ 101,34 per barel di pagi ini sebagaimana diberitakan oleh sumbernya. Hal yang sama juga dialami oleh patokan minyak mentah internasional lainnya yang diperdagangkan di pasar global.

Sedangkan harga kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,27% menjadi US$ 107,88 per barel menurut sumber tersebut. Melandainya harga energi ini tentu menjadi angin segar bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak.

Meskipun mayoritas bursa Asia menghijau, aktivitas perdagangan di beberapa negara besar sebenarnya masih dalam status jeda sementara. Pasar saham di Jepang dan China tutup karena hari libur nasional sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Kondisi pasar di Asia ini seolah meneruskan tren positif yang telah terbentuk di bursa saham Amerika Serikat pada akhir pekan sebelumnya. Para pelaku pasar global tampaknya mulai menemukan pijakan yang lebih stabil meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Kontrak berjangka saham AS diperdagangkan mendekati titik datar pada Minggu malam sebagaimana diberitakan oleh sumbernya. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 terpantau masih mampu mencatatkan kenaikan tipis di zona hijau.

Antusiasme ini merupakan kelanjutan dari pencapaian gemilang Wall Street yang sukses menyentuh rekor tertingginya sepanjang masa. Pada hari Jumat, baik S&P 500 maupun Nasdaq Composite naik ke level tertinggi intraday dan penutupan sepanjang masa menurut sumber tersebut.

Dominasi saham teknologi menjadi pendorong utama di balik melesatnya indeks Nasdaq yang melampaui indeks pasar luas lainnya. Indeks pasar secara luas naik 0,29%, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi naik 0,89% sebagaimana dilansir dari sumbernya.

Namun, tidak semua indeks mampu menikmati tren kenaikan ini karena ada perbedaan karakteristik sektor di dalamnya. Indeks Dow Jones justru harus bergerak anomali dengan mencatatkan penurunan yang cukup terasa bagi para pemegangnya.

Namun, Dow Jones melawan tren tersebut, merosot 152,87 poin, atau 0,31% sebagaimana diberitakan oleh sumbernya. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih melakukan rotasi aset di tengah fluktuasi harga energi yang cukup liar beberapa hari terakhir.

Anna Suci Perwitasari berpendapat bahwa pergerakan bursa di Asia awal pekan ini sangat dipengaruhi oleh keberanian investor dalam merespons pengumuman militer AS di Timur Tengah. Optimisme ini diharapkan dapat memberikan tenaga bagi pemulihan ekonomi kawasan yang lebih merata.

Kembalinya operasional di Selat Hormuz dinilai sebagai kunci utama untuk meredam inflasi global yang sempat dipicu oleh kenaikan biaya logistik. Pelaku pasar kini menantikan realisasi dari pengerahan armada AS tersebut di lapangan secara langsung.

Jika "Proyek Kebebasan" berjalan sesuai rencana tanpa memicu eskalasi konflik yang lebih luas, reli pasar saham diprediksi akan terus berlanjut. Fokus investor selanjutnya akan beralih pada rilis data ekonomi domestik masing-masing negara di Asia.

Secara keseluruhan, pembukaan perdagangan pagi ini memberikan sinyal bahwa pasar mulai belajar hidup berdampingan dengan risiko makro. Strategi antisipasi terhadap kebijakan bank sentral AS juga tetap menjadi faktor yang tidak boleh dikesampingkan oleh para manajer investasi.

Kenaikan indeks Kospi yang mencapai rekor baru diharapkan menjadi motor penggerak bagi bursa-bursa lain yang sedang mencoba bangkit. Pekan pertama di bulan Mei ini akan menjadi pembuktian bagi ketahanan pasar finansial global dalam menghadapi badai ketidakpastian.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua