Proyeksi Kurs Mei Rupiah Masih Terbayang Rekor Rp17.346 per Dolar AS

DI
Diaz Muhammad Hanif

Editor: Nathasya Zallianty

Sabtu, 02 Mei 2026
Proyeksi Kurs Mei Rupiah Masih Terbayang Rekor Rp17.346 per Dolar AS
Ilustrasi Mata Uang

JAKARTA – Kondisi pasar keuangan Indonesia sedang berada dalam fase yang sangat krusial menyusul performa nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga mencapai level terendahnya sepanjang sejarah. Para pelaku pasar nampaknya harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar pada bulan Mei ini, mengingat akumulasi sentimen negatif yang datang secara bersamaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Rekor buruk ini tercermin dari data penutupan perdagangan terakhir yang menunjukkan betapa kuatnya tekanan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang Garuda. Kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,12% menjadi Rp 17.346 per dolar AS pada Kamis (30/4/2026), sebagaimana diberitakan oleh sumbernya, Sabtu (02/05).

Pelemahan ini bukan tanpa alasan, sebab pengamat pasar melihat adanya perpaduan berbagai faktor yang saling mengunci dan memperburuk keadaan ekonomi nasional. Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono berpendapat bahwa pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global yang akhirnya membentuk sebuah fenomena "badai sempurna" di pasar keuangan saat ini.

Dari sisi internal, salah satu isu yang paling menyita perhatian investor asing adalah mengenai mekanisme pengawasan pada lembaga investasi baru milik negara. Sorotan terhadap tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi salah satu pemicu kekhawatiran investor global, menurut sumber tersebut, Sabtu (02/05).

Kekhawatiran ini semakin dipertegas oleh penilaian dari lembaga pemeringkat internasional yang melihat adanya celah dalam struktur organisasi lembaga tersebut. Risiko tata kelola dianggap meningkat karena model pelaporan yang dinilai terlalu terpusat, sehingga mengurangi tingkat kepercayaan pasar terhadap stabilitas jangka panjang.

Selain isu institusional, kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia juga menjadi bahan perbincangan di kalangan para spekulan dan pemilik modal. "Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di tengah tekanan nilai tukar juga dinilai pasar kurang agresif," ujar Wahyu Laksono, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Sabtu (02/05).

Sementara itu, dari sisi eksternal, kondisi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah kembali memberikan pukulan telak bagi negara-negara importir energi seperti Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia telah memaksa pemerintah mengeluarkan lebih banyak devisa untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional yang semakin mahal.

Di sisi global, eskalasi konflik Timur Tengah serta dinamika di pasar minyak turut memperburuk tekanan yang membuat harga minyak Brent menyentuh level US$ 108 per barel sehingga meningkatkan beban impor energi Indonesia, sebagaimana diberitakan oleh sumbernya, Sabtu (02/05).

Memasuki bulan Mei, prospek rupiah diperkirakan masih akan diselimuti oleh awan mendung akibat rilis data makroekonomi yang diprediksi kurang menggembirakan. Kenaikan harga BBM non-subsidi diperkirakan akan memicu lonjakan inflasi domestik yang pada gilirannya akan menekan daya beli masyarakat dan stabilitas mata uang.

Faktor musiman juga turut andil dalam memperparah arus keluar modal asing dari pasar keuangan dalam negeri. Wahyu Laksono memandang bahwa faktor musiman berupa aliran dividen ke investor asing menjadi pendorong utama arus keluar modal yang signifikan pada periode awal bulan ini.

Tekanan ini semakin diperkuat dengan sikap keras kepala bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang masih enggan menurunkan suku bunga acuannya. Kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama atau higher for longer telah membuat aset-aset berbasis dolar menjadi jauh lebih menarik dibandingkan mata uang negara berkembang.

Dalam kondisi yang paling ekstrem, nilai tukar rupiah bisa saja terus merosot hingga menyentuh angka psikologis baru yang lebih mengkhawatirkan. Wahyu Laksono memperkirakan bahwa dalam skenario terburuk, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut ke kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.800 per dolar AS jika tekanan eksternal dan domestik tidak mereda, menurut sumber tersebut, Sabtu (02/05).

Meskipun demikian, harapan untuk terjadinya pembalikan arah atau rebound masih tetap terbuka lebar jika beberapa syarat fundamental terpenuhi. Perbaikan kinerja perdagangan internasional dan meredanya tensi perang global diharapkan bisa menurunkan harga minyak ke level yang lebih masuk akal bagi fiskal negara.

"Rupiah bisa berbalik arah jika terdapat intervensi BI yang lebih agresif, data perdagangan Mei menunjukkan surplus yang kembali melebar, dan meredanya tensi geopolitik global yang menurunkan harga minyak ke bawah US$ 90," tutur Wahyu Laksono, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Sabtu (02/05).

Sejauh ini, Bank Indonesia telah berupaya melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui berbagai skema intervensi di pasar spot maupun pasar obligasi. Kebijakan yang dikenal dengan istilah triple intervention tersebut diakui cukup efektif untuk mencegah rupiah terjun bebas secara liar di tengah kepanikan pasar.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tindakan tersebut baru sebatas meredam gejolak sesaat dan belum mampu mengubah arah tren pelemahan secara permanen. Pasar kini mulai menghitung seberapa besar amunisi yang dimiliki negara dalam menghadapi tekanan yang diprediksi akan berlangsung cukup lama ini.

Cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$ 148 miliar sebenarnya masih berada dalam kategori aman menurut standar internasional. Namun, kecepatan penggunaan cadangan tersebut untuk menjaga nilai tukar menjadi poin sensitif yang terus dipantau oleh para analis ekonomi.

Secara keseluruhan, bulan Mei akan menjadi periode pembuktian bagi efektivitas kebijakan ekonomi pemerintah dalam menavigasi badai finansial. Ketepatan dalam merespons dinamika global dan perbaikan tata kelola di level domestik akan menjadi kunci utama apakah rupiah bisa kembali menguat atau justru semakin terperosok.

Masyarakat dan pelaku usaha disarankan untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi risiko terhadap fluktuasi nilai tukar yang mungkin terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak terganggu oleh krisis nilai tukar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua