Golongan Darah Tertentu Dapat Meningkatkan Risiko Terkena Stroke Secara Signifikan
- Selasa, 31 Maret 2026
JAKARTA - Stroke bukan hanya ancaman bagi lansia, melainkan juga bisa menyerang orang dewasa muda.
Sebuah penelitian menemukan bahwa pemilik golongan darah tertentu memiliki potensi risiko stroke dini sebelum usia 60 tahun. Hasil ini memunculkan perhatian baru terkait faktor genetika dalam kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Para peneliti menganalisis ribuan data pasien stroke serta puluhan ribu orang sehat dari berbagai penelitian. Fokus mereka termasuk genetika dan jenis stroke iskemik, yang merupakan bentuk stroke paling umum. Analisis ini membantu melihat kaitan spesifik antara golongan darah dan kecenderungan stroke dini.
Baca JugaRekomendasi 5 Restoran Bebek Modern Jakarta yang Pas untuk Makan Siang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 persen orang dengan golongan darah A lebih rentan mengalami stroke sebelum usia 60. Risiko ini tetap ada meski faktor lain seperti jenis kelamin, berat badan, dan kebiasaan merokok diperhitungkan. Dengan kata lain, golongan darah A merupakan indikator tambahan risiko stroke dini.
Perbedaan Risiko Berdasarkan Golongan Darah
Sementara itu, pemilik golongan darah B juga memiliki risiko stroke lebih tinggi dibanding golongan darah O. Sebaliknya, golongan darah O yang paling umum memiliki risiko lebih rendah. Data menunjukkan 12 persen orang dengan darah O lebih kecil kemungkinannya mengalami stroke dini.
Golongan darah AB dan B tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap stroke dini. Penemuan ini menyoroti bahwa faktor genetik bisa memengaruhi risiko stroke secara berbeda-beda. Artinya, mengetahui golongan darah dapat membantu menilai risiko lebih akurat.
Profesor neurologi dan peneliti utama mengatakan, “Jumlah orang dengan stroke dini meningkat. Orang-orang ini lebih mungkin meninggal karena peristiwa yang mengancam jiwa, dan mereka yang selamat berpotensi menghadapi kecacatan selama puluhan tahun.” Pernyataan ini menekankan pentingnya pencegahan sejak dini.
Mekanisme yang Diduga Menjadi Penyebab
Hingga kini, alasan golongan darah A meningkatkan risiko stroke masih belum sepenuhnya jelas. Kemungkinan besar terkait dengan faktor pembekuan darah, termasuk trombosit dan sel yang melapisi pembuluh darah. Hubungan ini memberikan petunjuk penting bagi penelitian lanjutan tentang pencegahan stroke.
Faktor pembekuan darah berperan dalam terbentuknya gumpalan yang bisa menyumbat aliran darah ke otak. Stroke iskemik terjadi ketika penyumbatan tersebut menghambat suplai oksigen. Sementara stroke hemoragik muncul akibat pecahnya pembuluh darah, keduanya bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Dengan pemahaman ini, dokter dapat menyarankan langkah pencegahan lebih spesifik bagi pemilik golongan darah A. Misalnya, kontrol tekanan darah, pola makan sehat, dan aktivitas fisik teratur. Langkah ini membantu mengurangi risiko terjadinya stroke dini.
Statistik Global dan Nasional
Di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara tercatat lebih dari 91.000 kasus stroke dalam setahun. Di Amerika Serikat, sekitar 800.000 orang mengalami stroke setiap tahun. Data ini menunjukkan bahwa stroke adalah masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian serius.
Hampir setengah populasi Inggris dan Amerika memiliki golongan darah O, dan sepertiga memiliki golongan darah A. Tipe B dan AB masing-masing sekitar 10 dan lima persen. Distribusi ini relevan karena membantu memprediksi kelompok yang lebih berisiko terhadap stroke dini.
Para peneliti menekankan bahwa peningkatan risiko berdasarkan golongan darah tidak perlu menimbulkan kepanikan. Yang terpenting adalah memahami bahwa golongan darah bisa menjadi salah satu faktor tambahan untuk strategi pencegahan. Kesadaran dini dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan akibat stroke.
Langkah Pencegahan dan Kesadaran Masyarakat
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik akibat sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 15 juta orang mengalami stroke setiap tahunnya, dengan 5 juta meninggal dunia dan 5 juta mengalami cacat permanen. Angka ini menegaskan bahwa stroke adalah ancaman serius bagi semua usia.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa stroke tidak hanya mengintai lansia. Semua orang berisiko, termasuk mereka yang masih produktif. Pencegahan melalui pola hidup sehat, deteksi dini, dan pengelolaan faktor risiko menjadi kunci mengurangi dampak stroke.
Profesor neurologi juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda stroke dini. Dengan mengenali gejala awal, seperti kelemahan mendadak, kesulitan berbicara, atau wajah miring, penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk mencegah kematian dan kecacatan akibat stroke.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Tips Kendalikan Cara Berpikir untuk Redakan Kecemasan Setelah Liburan
- Selasa, 31 Maret 2026
Kreasi Dendeng Balado Kering Praktis, Lezat, dan Tahan Lama di Rumah
- Selasa, 31 Maret 2026
ITZY Siap Ramaikan Industri Musik dengan Comeback Penuh Energi Bulan Mei 2026
- Selasa, 31 Maret 2026
Kemenkes Waspada, Kasus Campak Menurun namun Pemantauan Tetap Intensif
- Selasa, 31 Maret 2026










