Danantara Terima Investasi Besar untuk Mendukung Pengembangan PLTS Desa Terpadu
- Jumat, 06 Maret 2026
JAKARTA - Danantara mencatat langkah strategis untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di desa-desa Indonesia.
Perusahaan menerima investasi senilai 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,66 triliun untuk membangun pabrik pendukung PLTS berkapasitas 50 gigawatt (GW). Investasi ini diharapkan menjadi dorongan signifikan bagi rencana pemerintah meningkatkan elektrifikasi desa menggunakan energi terbarukan.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan pabrik tersebut akan rampung pada akhir tahun ini.
Baca JugaLayanan DAMRI di Bandara YIA Ditingkatkan untuk Mobilitas Penumpang
“Kebetulan sudah ada investasi yang masuk ke Indonesia. Pabrik itu akan selesai tahun ini dengan nilai investasi 1,4 miliar dolar AS dan kapasitas 50 gigawatt. Jadi investasi itu sudah masuk dan akhir tahun ini akan selesai. Itu juga akan membantu agar kita dapat menggunakan produksi dalam negeri untuk proyek percepatan PLTS ini,” ujarnya.
Rosan menambahkan, proyek ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk memperluas jaringan distribusi listrik di desa-desa yang telah memiliki koneksi. Hal ini menjadi momentum penting untuk mendorong pemanfaatan produksi dalam negeri. Pembangunan pabrik juga diproyeksikan menciptakan ekosistem energi surya yang mandiri.
Prototipe PLTS dan Percepatan Transisi Energi
Danantara telah membangun prototipe PLTS berkapasitas 1 megawatt (MW) di Sumenep, Madura, Jawa Timur. Prototipe ini akan ditinjau oleh tim pemerintah terkait untuk memastikan kualitas dan kesiapan teknologi. “Prototipe itu akan ditinjau dan dilihat langsung oleh tim, baik dari ESDM maupun Mendikti, untuk kemudian dapat di-roll out,” kata Rosan.
Prototipe menjadi langkah awal untuk mengimplementasikan PLTS secara masif di berbagai desa. Teknologi yang diuji meliputi panel surya, sistem penyimpanan energi, dan integrasi dengan jaringan distribusi. Hasil evaluasi prototipe nantinya akan menjadi acuan bagi pembangunan pabrik dan program percepatan PLTS.
Selain itu, prototipe PLTS juga berfungsi sebagai pusat pelatihan teknis bagi tenaga kerja lokal. Petugas desa dapat mempelajari operasi dan pemeliharaan sistem surya. Dengan cara ini, kapasitas lokal untuk mengelola energi bersih dapat meningkat secara berkelanjutan.
Arahan Presiden dan Pembentukan Satgas Energi Baru Terbarukan
Dalam rapat terbatas, Presiden memberikan arahan langsung terkait percepatan transisi energi. Danantara diminta menyiapkan opsi pendanaan yang melibatkan entitas dalam negeri maupun swasta. “Bapak Presiden memberikan arahan agar pembangunan ini dapat dilakukan dengan beberapa opsi pendanaan. Kami diminta melihat dan mempelajari strukturnya, bekerja sama dengan entitas dalam negeri maupun pihak swasta yang memiliki teknologi serta kemampuan di bidang tenaga surya dan baterai. Itu pembicaraan yang tadi berlangsung, fokusnya ada di situ,” jelas Rosan.
Pemerintah membentuk satuan tugas (Satgas) untuk mempercepat implementasi energi baru dan terbarukan (EBT). Satgas ini dipimpin oleh Menteri ESDM dan bertugas menerjemahkan kebijakan pemerintah secara cepat. Tujuan utamanya adalah mempercepat konversi motor konvensional menjadi kendaraan listrik dan memperluas PLTS di desa-desa.
Satgas EBT juga berfokus pada percepatan pembangunan infrastruktur energi bersih. Hal ini meliputi pembangkit listrik surya, baterai penyimpanan energi, dan integrasi dengan jaringan lokal. Langkah ini diharapkan mendukung target energi nasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Konversi Motor Konvensional dan Elektrifikasi Desa
Satgas transisi energi memiliki agenda khusus terkait kendaraan bermotor konvensional. Jumlah motor dan mobil konvensional yang harus dikonversi diperkirakan mencapai 120 juta unit. Dengan percepatan ini, konsumsi bahan bakar fosil akan berkurang signifikan, sekaligus mendukung energi bersih.
Presiden menargetkan implementasi program berjalan maksimal dalam 3–4 tahun. Bahkan jika memungkinkan, percepatan bisa dilakukan lebih cepat dari rencana awal. “Bapak Presiden sangat berkeinginan agar implementasinya dilakukan segera dan insya Allah kita akan melakukannya dalam kurun waktu yang tidak lama. Bapak Presiden tadi menyampaikan bahwa maksimal tiga sampai empat tahun, bahkan kalau bisa lebih cepat lagi,” jelas Bahlil.
Program konversi kendaraan ini selaras dengan pembangunan PLTS dan pengembangan energi terbarukan. Masyarakat desa diharapkan dapat menikmati akses listrik bersih sambil memanfaatkan kendaraan listrik. Integrasi ini menjadi langkah konkret menuju desa mandiri energi.
Efisiensi Anggaran dan Manfaat Energi Bersih
Percepatan transisi energi tidak hanya mendukung penggunaan energi bersih, tetapi juga menekan beban subsidi listrik pemerintah. Konversi PLTD ke PLTS membantu mengurangi pengeluaran negara. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi investasi lebih besar di sektor energi terbarukan.
Dengan investasi Rp23 triliun untuk pabrik PLTS, Danantara mendorong kemandirian energi nasional. Produksi dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan proyek desa dan memperkuat industri lokal. Langkah ini menjadi salah satu pilar utama strategi pemerintah dalam percepatan transisi energi.
Selain itu, penggunaan PLTS di desa meningkatkan akses listrik bagi masyarakat yang sebelumnya belum terlayani optimal. Hal ini mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan publik secara berkelanjutan. Investasi ini diharapkan menciptakan dampak sosial dan ekonomi positif jangka panjang bagi masyarakat desa.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Garuda Indonesia Tawarkan Diskon Tiket Menarik untuk Mudik Lebaran 2026
- Jumat, 06 Maret 2026
Pelni Ambon Siapkan Armada Tambahan Demi Lancarnya Mudik Lebaran 2026
- Jumat, 06 Maret 2026
BPJS Kesehatan Permudah Skrining Daring, Bisa Diakses Langsung dari Ponsel
- Jumat, 06 Maret 2026












