Jumat, 06 Maret 2026

Harga CPO Global Menguat dan Mencapai Level Tertinggi dalam Sebulan

Harga CPO Global Menguat dan Mencapai Level Tertinggi dalam Sebulan
Harga CPO Global Menguat dan Mencapai Level Tertinggi dalam Sebulan

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas minyak sawit mentah kembali menjadi sorotan pasar global.

Dalam beberapa hari terakhir, tren kenaikan terlihat cukup signifikan di perdagangan internasional. Kondisi ini mendorong harga Crude Palm Oil (CPO) mencapai posisi tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Kenaikan harga CPO terjadi seiring perubahan dinamika pasar energi dan minyak nabati dunia. Penguatan harga minyak mentah turut memberikan sentimen positif bagi komoditas sawit. Selain itu, ketegangan geopolitik global juga memengaruhi arah pergerakan pasar komoditas.

Baca Juga

Info Lengkap Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Seluruh Indonesia

Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives mengalami lonjakan signifikan. Pergerakan tersebut terjadi dalam sesi perdagangan Kamis pada awal Maret 2026. Lonjakan ini sekaligus mendorong harga CPO mencapai level tertinggi dalam sebulan terakhir.

Kenaikan harga tersebut didukung oleh penguatan harga minyak mentah dunia. Sentimen global yang berkembang turut memengaruhi permintaan minyak nabati. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhatikan potensi pergerakan komoditas sawit.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Kamis 5 Maret 2026. Kontrak berjangka CPO untuk Maret 2026 naik 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.096 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak berjangka CPO April 2026 meningkat 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.180 Ringgit Malaysia per ton.

Pergerakan Kontrak Berjangka CPO Berbagai Periode

Selain kontrak jangka pendek, kenaikan juga terjadi pada kontrak berjangka bulan berikutnya. Hal ini menunjukkan sentimen pasar terhadap CPO masih cukup positif. Para pelaku pasar memantau perkembangan kondisi energi global.

Kontrak berjangka CPO Mei 2026 mengalami kenaikan sebesar 28 Ringgit Malaysia. Dengan kenaikan tersebut harga mencapai 4.207 Ringgit Malaysia per ton. Pergerakan ini menunjukkan adanya optimisme di pasar komoditas sawit.

Sementara itu kontrak berjangka CPO Juni 2026 juga mencatat penguatan. Harga untuk periode tersebut naik 29 Ringgit Malaysia. Posisi akhirnya berada di level 4.218 Ringgit Malaysia per ton.

Kenaikan tidak berhenti pada kontrak pertengahan tahun saja. Kontrak berjangka CPO Juli 2026 juga ikut mengalami peningkatan. Harga kontrak tersebut naik 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.217 Ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak berjangka CPO Agustus 2026 turut menunjukkan tren positif. Harga meningkat sebesar 28 Ringgit Malaysia. Dengan demikian posisi harga berada pada level 4.208 Ringgit Malaysia per ton.

Harga Sempat Menyentuh Level Tertinggi Perdagangan

Sepanjang sesi perdagangan, harga CPO sempat bergerak lebih tinggi. Bahkan pada satu titik harga menyentuh posisi tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Hal ini menjadi perhatian pelaku pasar komoditas global.

Data perdagangan menunjukkan harga sempat mencapai 4.268 ringgit per ton. Level tersebut menjadi titik tertinggi sejak akhir Januari lalu. Sebelumnya harga sempat mengalami pelemahan pada awal sesi perdagangan.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya pemulihan yang cukup cepat. Perubahan dinamika pasar minyak nabati memberikan pengaruh penting. Hal ini juga berdampak pada arah pergerakan harga minyak sawit.

Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, memberikan pandangannya mengenai kondisi tersebut. Ia menilai pemulihan harga dipengaruhi perubahan struktur harga di pasar energi. Situasi ini membuat posisi minyak sawit menjadi lebih kompetitif.

“Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia berhasil bangkit dari pelemahan awal. Pemulihan ini terjadi karena harga minyak sawit kini berada pada posisi diskon terhadap gasoil, setelah harga gasoil melonjak tajam akibat ketegangan di Timur Tengah,” ujar Bagani.

Ancaman Gangguan Pasokan Dorong Permintaan

Faktor lain yang turut mendukung kenaikan harga adalah potensi gangguan pengiriman minyak nabati. Kawasan Timur Tengah menjadi salah satu jalur penting perdagangan komoditas energi dan minyak nabati. Ketegangan di wilayah tersebut memicu kekhawatiran pasar.

Ancaman gangguan distribusi dapat memengaruhi pasokan komoditas global. Jika pasokan minyak nabati lain terganggu, maka permintaan terhadap minyak sawit bisa meningkat. Hal ini menjadi salah satu faktor penguat harga CPO.

Menurut Bagani, kondisi tersebut berpotensi memicu peningkatan permintaan minyak sawit. Situasi ini dapat terjadi apabila pasokan minyak kedelai dan minyak bunga matahari menjadi terbatas. Perubahan tersebut akan memengaruhi keseimbangan pasar minyak nabati dunia.

Pergerakan harga juga dipengaruhi oleh dinamika pasar komoditas lainnya. Kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian tercatat relatif stabil. Sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama meningkat sebesar 0,64 persen.

Di sisi lain harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga menunjukkan penguatan. Komoditas tersebut naik sekitar 0,47 persen. Pergerakan ini menunjukkan adanya hubungan antar pasar minyak nabati global.

Prospek Harga CPO dan Dukungan Pasar Energi

Harga minyak sawit umumnya bergerak mengikuti tren minyak nabati lain. Komoditas tersebut saling bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar global. Oleh karena itu perubahan harga salah satu komoditas dapat memengaruhi lainnya.

Kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan dukungan tambahan bagi CPO. Harga energi global mengalami penguatan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini membuat komoditas berbasis minyak nabati kembali menarik perhatian pasar.

Penguatan harga minyak dipicu oleh ketegangan geopolitik internasional. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut mengganggu pasokan energi global. Situasi tersebut mendorong sejumlah produsen melakukan penyesuaian produksi.

Kondisi tersebut memberikan dampak lanjutan terhadap pasar biodiesel. Minyak sawit menjadi salah satu bahan baku penting dalam produksi energi terbarukan. Ketika harga minyak mentah naik, permintaan terhadap bahan baku biodiesel juga cenderung meningkat.

Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memberikan pandangan mengenai pergerakan harga berikutnya. Ia menilai harga CPO berpotensi menguji level dukungan tertentu dalam waktu dekat. Jika level tersebut ditembus, pergerakan harga bisa berubah.

Menurut Wang Tao, harga CPO berpotensi menguji level dukungan di 4.138 ringgit per ton. Jika level tersebut ditembus maka harga berisiko turun menuju kisaran 4.098 hingga 4.121 ringgit per ton. Analisis ini menjadi salah satu referensi bagi pelaku pasar dalam memantau arah pergerakan komoditas sawit.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pemerintah Tingkatkan Energi Terbarukan dengan Prioritas PLTS Desa Terpadu

Pemerintah Tingkatkan Energi Terbarukan dengan Prioritas PLTS Desa Terpadu

Rampungkan Pemipaan Sumur Produksi PGE Kamojang Tambah Kapasitas 23,8 MW

Rampungkan Pemipaan Sumur Produksi PGE Kamojang Tambah Kapasitas 23,8 MW

Kuasai Pasokan Nikel Dunia, Perhapi Dorong Penerapan Standar ESG Nasional

Kuasai Pasokan Nikel Dunia, Perhapi Dorong Penerapan Standar ESG Nasional

Pilihan Rumah Subsidi Terjangkau di Kawasan Gunung Sindur Bogor untuk Keluarga

Pilihan Rumah Subsidi Terjangkau di Kawasan Gunung Sindur Bogor untuk Keluarga

Petani Aceh Tamiang Tanam Timun Suri untuk Pulihkan Ekonomi Pasca Banjir

Petani Aceh Tamiang Tanam Timun Suri untuk Pulihkan Ekonomi Pasca Banjir