Pertumbuhan Pinjaman Paylater Perbankan Terus Menguat di Awal 2026
- Rabu, 04 Maret 2026
JAKARTA - Bisnis buy now pay later (BNPL) di sektor perbankan menunjukkan tren positif di awal tahun 2026.
Pertumbuhan ini menandakan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kredit fleksibel. Bank-bank nasional mulai memanfaatkan momentum ini untuk memperluas layanan BNPL.
OJK mencatat, hingga Januari 2026, baki kredit BNPL perbankan mencapai Rp 27,1 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan 20,15% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melanjutkan tren positif 19,32% yoy pada akhir tahun sebelumnya.
Baca Juga
Porsi baki kredit BNPL saat ini setara dengan 0,32% dari total kredit industri perbankan. Meskipun relatif kecil, kontribusi BNPL tetap signifikan dalam mendorong inklusi keuangan. Tren ini menjadi perhatian bank untuk memaksimalkan portofolio kredit digital.
Kinerja Kredit Perbankan Secara Umum
Selain BNPL, kredit perbankan secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif. Total kredit mencapai Rp 8.557 triliun, tumbuh 9,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan 9,63% pada bulan sebelumnya, menunjukkan stabilitas industri.
Pertumbuhan kredit ini didorong oleh peningkatan permintaan dari sektor konsumsi dan usaha kecil menengah. Bank-bank juga melaporkan peningkatan transaksi digital yang memudahkan akses kredit. Fasilitas digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit modern.
Menurut pengamat industri, tren pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor perbankan mampu beradaptasi dengan kebutuhan nasabah yang semakin dinamis. Strategi diversifikasi produk menjadi faktor penting. Bank-bank nasional terus mendorong inovasi layanan untuk menjaga momentum positif.
Jumlah Rekening dan Kualitas Kredit
Sejalan dengan pertumbuhan baki kredit, jumlah rekening BNPL juga mengalami peningkatan. Hingga Januari 2026, jumlahnya mencapai 31,23 juta rekening, naik dari 31,21 juta pada Desember 2025. Pertumbuhan ini menandakan penetrasi BNPL semakin luas di masyarakat.
Dari sisi kualitas, rasio kredit bermasalah (NPL) juga terjaga. NPL gross sebesar 2,14% dan NPL net sebesar 0,82%, masing-masing naik tipis dari posisi sebelumnya. Kredit berisiko (Loan at Risk/LaR) tercatat 9,01%, sedikit meningkat dari posisi 8,77% bulan sebelumnya.
Kendati terjadi kenaikan tipis, kondisi ini masih dalam batas aman bagi industri perbankan. Fasilitas monitoring dan manajemen risiko menjadi faktor utama. Bank terus memperkuat sistem evaluasi untuk memastikan kredit tetap sehat.
Modal dan Likuiditas Perbankan
Dari sisi permodalan, industri perbankan mencatat rasio kecukupan modal (CAR) yang solid di level 25,87%. Likuiditas bank juga terjaga, meski rasio alat likuid AL/NCD turun menjadi 121,23% dari 126,15%. Rasio AL/DPK juga sedikit menurun menjadi 27,54% dari 28,57% pada akhir tahun lalu.
Penurunan rasio likuiditas ini bukan hal mengkhawatirkan. Bank tetap memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk memenuhi permintaan nasabah. Strategi manajemen dana dan likuiditas menjadi kunci menjaga stabilitas operasional.
Industri perbankan terus menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan likuiditas. Modal yang kuat dan manajemen risiko tepat memastikan sektor ini tetap resilient. OJK menegaskan bahwa pemantauan berkelanjutan menjadi prioritas.
Target Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
Dana pihak ketiga (DPK) turut menunjukkan tren positif, tumbuh 13,48% yoy menjadi Rp 10.076 triliun. Pertumbuhan ini mendukung ekspansi kredit dan stabilitas likuiditas bank. Bank menekankan pentingnya pengelolaan DPK secara efisien.
OJK menargetkan pertumbuhan kredit dan DPK masing-masing di level 10%–12% dan 7%–9% untuk tahun ini. Target ini selaras dengan strategi perbankan dalam mendukung perekonomian nasional. Implementasi program kredit digital dan BNPL menjadi salah satu instrumen penting mencapai target.
Pertumbuhan BNPL menjadi salah satu indikator inklusi keuangan modern. Layanan ini tidak hanya memudahkan masyarakat, tetapi juga mendorong transaksi digital. Bank-bank terus mengembangkan inovasi produk agar layanan lebih aman dan efisien.
Pengamat menekankan, peningkatan jumlah rekening dan pertumbuhan baki kredit menandakan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Layanan yang transparan dan mudah diakses menjadi kunci. Nasabah kini lebih percaya memanfaatkan fasilitas digital untuk kebutuhan konsumsi dan usaha.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Prudential Optimis Unitlink Saham Masih Miliki Peluang Pertumbuhan Tahun Ini
- Rabu, 04 Maret 2026












