Sabtu, 07 Februari 2026

Harga Minyak Mentah Brent dan WTI Stabil Pasca Gencatan Senjata

Harga Minyak Mentah Brent dan WTI Stabil Pasca Gencatan Senjata
Harga Minyak Mentah Brent dan WTI Stabil Pasca Gencatan Senjata

JAKARTA - Harga minyak dunia menunjukkan stabilitas pada perdagangan terbaru, setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari satu persen. 

Kondisi ini terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah usai tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Harga minyak mentah Brent naik tipis menjadi US$65,31 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) meningkat ke US$61,63 per barel. Kestabilan ini menandai berkurangnya premi risiko perang yang selama dua tahun terakhir menahan volatilitas pasar energi global.

Baca Juga

Indonesia Raih Kemajuan Signifikan Dalam Pendanaan Energi Bersih Lewat JETP

Pengaruh Gencatan Senjata terhadap Pasar Energi

Analis ANZ, Daniel Hynes, menilai kesepakatan gencatan senjata membuat investor kembali fokus pada potensi surplus pasokan karena OPEC+ terus melonggarkan pemangkasan produksi. 

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas menetapkan Israel menarik sebagian pasukannya dari Gaza, sedangkan Hamas membebaskan seluruh sandera, sebagai imbalan pembebasan ratusan tahanan oleh Israel.

Selama dua tahun konflik berlangsung, perang di Gaza meningkatkan kekhawatiran gangguan suplai minyak global. Dengan tercapainya gencatan senjata, pasar mulai menilai risiko geopolitik telah menurun, meski sentimen pasar tetap rapuh karena perhatian investor kini beralih ke potensi kelebihan pasokan minyak dunia.

Peran OPEC+ dan Produksi Minyak Dunia

OPEC+ baru-baru ini menyetujui peningkatan produksi untuk bulan berikutnya, meski dalam skala lebih kecil dari perkiraan pasar. Kestabilan harga minyak ini juga dipengaruhi oleh mandeknya negosiasi perdamaian Ukraina, yang menegaskan sanksi terhadap Rusia, eksportir minyak terbesar kedua dunia, masih akan berlanjut.

Kenaikan harga minyak sempat mencapai sekitar satu persen dan berada pada level tertinggi dalam sepekan. Secara mingguan, baik Brent maupun WTI mencatat kenaikan sekitar 1,2 persen, setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam pekan lalu.

Risiko Lain terhadap Permintaan Minyak

Meski harga minyak relatif stabil, kekhawatiran terhadap kemungkinan penutupan pemerintahan AS (government shutdown) dinilai dapat menekan permintaan minyak di ekonomi terbesar dunia tersebut. Investor pun tetap waspada terhadap dinamika geopolitik dan kondisi pasar global yang memengaruhi volatilitas harga minyak.

Dengan stabilnya harga minyak pasca gencatan senjata, pasar energi global dapat lebih tenang dalam jangka pendek. Namun, kombinasi risiko geopolitik, kelebihan pasokan, dan faktor domestik di negara konsumen utama seperti AS tetap menjadi perhatian penting bagi para pelaku pasar dan analis energi internasional.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Zulkifli Hasan Dorong PSEL di TPA Antang Makassar Untuk Energi Bersih

Zulkifli Hasan Dorong PSEL di TPA Antang Makassar Untuk Energi Bersih

HKTI Dorong Koordinasi dan Pendampingan Petani Hadapi Musim Tanam 2026

HKTI Dorong Koordinasi dan Pendampingan Petani Hadapi Musim Tanam 2026

Zulkifli Hasan Jelaskan Penyesuaian Program MBG Menyambut Bulan Ramadhan

Zulkifli Hasan Jelaskan Penyesuaian Program MBG Menyambut Bulan Ramadhan

Pencapaian Proyek JETP Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Perkuat Transisi Energi

Pencapaian Proyek JETP Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Perkuat Transisi Energi

Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi

Dewan Energi Nasional Sebut Biodiesel Berperan Strategis Dalam Mewujudkan Swasembada Energi