JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan hari ini, didorong surplus neraca perdagangan domestik dan pelemahan greenback.
Investor mencermati pergerakan mata uang global seiring ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat.
Kondisi Pasar Rupiah dan Dolar AS
Baca JugaIndonesia Gadai Oke: Proyeksi Gadai Emas Tetap Diminati Masyarakat
Rupiah dibuka naik 24,5 poin atau 0,15% ke level Rp16.610 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,03% ke 97,68. Mata uang Asia lainnya mayoritas melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,08%, won Korea melemah 3,22%, dan peso Filipina turun 0,06%.
Sebaliknya, baht Thailand justru terapresiasi 0,02%, menandakan adanya perbedaan sentimen di kawasan Asia. Pergerakan ini menjadi perhatian investor regional.
Sentimen Global Pengaruhi Nilai Tukar
Pengamat forex Ibrahim Assuaibi menilai beberapa faktor memengaruhi pergerakan rupiah. Dari luar negeri, pemerintah AS resmi shutdown, sehingga rilis data tenaga kerja tertunda.
Data penggajian non-pertanian untuk September dijadwalkan Jumat mendatang, namun kini tertunda karena gangguan lembaga federal. Data ini sangat menentukan kebijakan suku bunga The Fed.
Komentar hawkish pejabat The Fed memunculkan keraguan pasar terkait penurunan suku bunga lebih lanjut. Ketidakpastian ini berpengaruh pada pergerakan mata uang global.
Faktor Domestik Dorong Penguatan Rupiah
Dari dalam negeri, BPS mencatat surplus neraca perdagangan mencapai US$5,49 miliar. Posisi ekspor sebesar US$24,96 miliar lebih tinggi dibandingkan impor US$19,43 miliar.
Surplus ini menjadi faktor positif bagi rupiah. Catatan ini juga menunjukkan surplus 64 bulan beruntun sejak 2020, menandakan stabilitas perdagangan jangka panjang.
Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif namun tetap menguat, diperkirakan berada di kisaran Rp16.580 - Rp16.640 per dolar AS. Tren ini diikuti oleh pergerakan investor di pasar valas domestik.
Kurs Dolar di Bank Umum
Hari ini, kurs dolar di beberapa bank besar menunjukkan pergerakan stabil. BCA menetapkan harga beli Rp16.595 dan jual Rp16.615 untuk e-rate. TT counter BCA berada di Rp16.485-Rp16.785.
Di BRI, e-rate ditetapkan Rp16.583-Rp16.610, sedangkan TT counter Rp16.510-Rp16.710. Bank Mandiri menetapkan special rate Rp16.600-Rp16.630, TT counter Rp16.475-Rp16.775.
BNI menetapkan special rate Rp16.588-Rp16.623, TT counter Rp16.465-Rp16.765, dan bank notes Rp16.465-Rp16.765. Fluktuasi kecil ini mencerminkan pasar yang relatif stabil pada awal perdagangan.
Penetapan kurs di bank-bank besar menjadi acuan bagi transaksi ritel dan korporasi. Stabilitas ini diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor serta mendukung aktivitas perdagangan valas di Indonesia.
Alif Bais Khoiriyah
wartafinansial.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Asuransi Kesehatan Tetap Menjanjikan dengan Strategi Ciputra Life yang Efektif
- Kamis, 02 April 2026
Perak Antam Kembali Menguat, Menjadi Peluang Investasi yang Menjanjikan
- Kamis, 02 April 2026
Bank Indonesia Catat Tren Positif Transaksi QRIS Antarnegara Tahun 2026
- Kamis, 02 April 2026
Harga Emas Antam Menguat, Investor Bisa Manfaatkan Peluang Investasi Menjanjikan
- Kamis, 02 April 2026












