WARTAFINANSIAL.COM — Nintendo of America COO Devon Pritchard menyatakan era Switch 2 baru saja dimulai, ditopang penjualan konsol yang tembus hampir 20 juta unit dalam setahun pertama. Pernyataan itu muncul saat Nintendo menyiapkan remake The Legend of Zelda: Ocarina of Time dan film Zelda bersama Sony Pictures. Pritchard menyebut kombinasi game dan ekspansi ke layar lebar jadi fondasi pertumbuhan Nintendo beberapa tahun ke depan.

Menurut data yang beredar, Switch 2 tercatat sebagai perangkat keras game terlaris dalam sejarah Amerika Serikat, melewati rekor PS4. Penjualan konsol generasi terbaru Nintendo itu juga dilaporkan menyentuh hampir 20 juta unit dalam kurun setahun setelah rilis.

Penjualan Switch 2 Jadi Fondasi

Pencapaian tersebut menempatkan Switch 2 sebagai konsol terlaris kedua dalam sejarah AS. Deretan game first-party seperti Pokopia turut mendorong momentum, meski harga perangkat keras sempat naik.

Kondisi ini jadi sinyal bahwa permintaan pasar terhadap ekosistem Nintendo belum surut. Pemilik Switch 2 di Indonesia pun bisa membaca arah dukungan jangka panjang Nintendo dari pernyataan Pritchard.

Pritchard: Ini Baru Permulaan

"We're at the beginning of Nintendo Switch 2," kata Pritchard. "This is just beginning and we've already had some really wonderful experiences, both ours and third-party come to the table."

Ia menambahkan pihaknya tak sabar melihat apa yang akan dibawa para developer ke sistem tersebut. Pernyataan ini menegaskan Nintendo belum menganggap Switch 2 sebagai produk yang matang sepenuhnya.

Remake Ocarina of Time dan Film Zelda

Pritchard secara spesifik menyebut The Legend of Zelda: Ocarina of Time sebagai salah satu proyek yang membuatnya antusias. Remake tersebut sebelumnya sudah dikonfirmasi lewat pengumuman resmi Nintendo.

Selain game, Nintendo memperluas bisnisnya ke layar lebar. Pritchard mengonfirmasi kerja sama dengan Sony Pictures untuk film The Legend of Zelda yang dijadwalkan tayang akhir April.

"We're working with Sony Pictures. We are going to have a movie come out in the end of April," ujarnya. Proyek ini menyusul kesuksesan The Super Mario Galaxy Movie yang meraup 1 miliar dolar AS, dengan 372,6 juta dolar AS di antaranya datang dari akhir pekan pembukaan.

Strategi Lintas Media Nintendo

Pritchard menyoroti pentingnya kemitraan dengan perusahaan seperti Sony dan Sony Pictures. Menurutnya, kolaborasi itu membuka jalan menghadirkan pengalaman Nintendo ke pemain lama maupun audiens baru.

"There are more channels for content than ever before," kata Pritchard. Ia menilai Nintendo tidak sekadar bersaing memperebutkan waktu konsumen, melainkan membangun relasi yang bertahan lintas generasi.

Pendekatan ini berbeda dari kompetitor yang umumnya berfokus pada siklus rilis tahunan. Nintendo menaruh energi pada pengalaman yang dinilai menyenangkan sebagai tolok ukur utama.

Zelda Live-Action dan Kondisi Industri

Proyek film The Legend of Zelda tanpa subjudul itu sudah menyelesaikan pengambilan gambar di Selandia Baru. Syuting dimulai Oktober 2025, dan sampai kini trailer resminya belum dirilis.

Nintendo berharap ekspansi sinematik ini memperkuat posisinya di pasar hiburan global. Namun industri game saat ini tengah menghadapi tekanan berupa krisis produksi, harga perangkat naik, dan belanja konsumen yang menurun.

Sejauh ini Nintendo tampak lebih tahan terhadap badai tersebut dibandingkan sebagian pesaingnya. Pertanyaannya, apakah keyakinan perusahaan pada produk dan audiensnya bertahan saat industri bergolak.

Reporter: Redaksi