WARTAFINANSIAL.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat sebesar 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026), membawa target federal funds rate ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan ini menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Mayoritas pejabat The Fed memperkirakan masih ada satu kenaikan lagi sebelum akhir tahun.
Keputusan tersebut menjadi yang pertama sejak Kevin Warsh memimpin bank sentral Amerika Serikat. Seluruh anggota komite kebijakan yang memberikan suara setuju dengan kenaikan 25 basis poin.
Proyeksi Pejabat: Satu Kenaikan Lagi Sebelum Akhir Tahun
Dari 18 pejabat yang menyampaikan proyeksi, 16 orang memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026. Dua pejabat lainnya memilih suku bunga bertahan di level sekarang.
Proyeksi ini bergeser dari perkiraan Juni lalu. Sebelumnya, pejabat The Fed masih membuka ruang pemangkasan 25 basis poin pada 2027. Kini, suku bunga diprediksi bertahan lebih tinggi sepanjang 2027 dan baru turun pada 2028.
Inflasi AS Masih Jadi Alasan Utama
Tekanan harga dinilai belum mereda. The Fed menaikkan proyeksi inflasi berbasis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) 2026 menjadi 3,7%, dari sebelumnya 3,6%.
Untuk 2027, inflasi diperkirakan 2,3%. Proyeksi 2028 naik menjadi 2,1%. Target 2% baru diprediksi tercapai pada 2029.
Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut risiko inflasi masih condong ke atas. Konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan biaya energi turut memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi butuh waktu lebih lama untuk kembali ke target.
Pertumbuhan Ekonomi AS Sedikit Lebih Optimistis
Di sisi lain, The Fed menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Produk domestik bruto (PDB) 2026 diperkirakan tumbuh 2,3%, naik dari proyeksi Juni sebesar 2,2%. Untuk 2027, pertumbuhan diproyeksikan 2,4%.
Tingkat pengangguran diperkirakan 4,1% pada akhir 2026 dan bertahan di level itu hingga 2029.
Warsh menegaskan proyeksi suku bunga tersebut hanya perkiraan para pejabat The Fed, bukan panduan kebijakan yang mengikat. Arah kebijakan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi.
Bagi pasar Indonesia, sinyal suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama berpotensi menahan aliran modal masuk ke aset negara berkembang. Tekanan pada rupiah dan obligasi pemerintah perlu dicermati dalam beberapa bulan ke depan.