Kepastian Keamanan Bangunan dan Pasokan Air Bersih Jadi Prioritas Kementerian PU Pasca-Gempa NTT
Nagekeo – Kepastian keamanan fasilitas publik serta ketersediaan air bersih menjadi fokus utama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam merespons dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), seiring dengan upaya mempercepat pemulihan layanan dasar bagi masyarakat terdampak.
Kementerian PU bergerak cepat dengan melakukan pendataan dan pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan-bangunan publik yang terdampak gempa. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan langsung Menteri PU Dody Hanggodo agar setiap bangunan yang masih digunakan dipastikan kondisinya aman, sekaligus untuk memetakan kebutuhan perbaikan yang mendesak.
Prioritas pemeriksaan difokuskan pada infrastruktur yang menjadi tulang punggung pelayanan masyarakat, di antaranya rumah sakit, kantor pemerintahan, fasilitas umum, dan rumah ibadah. Kecepatan penanganan menjadi kata kunci dalam operasi kali ini.
"Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani," kata Menteri PU Dody Hanggodo saat meninjau lokasi terdampak bencana di Nagekeo, NTT, Selasa (18/8/2026).
Untuk mempercepat proses pemeriksaan di lapangan, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTT menambah jumlah personel yang diterjunkan. Sebanyak 11 personel dijadwalkan berangkat dari Kupang menuju Labuan Bajo, Manggarai Barat, pada Rabu (19/8/2026), memperkuat tiga personel yang telah lebih dulu berada di lokasi. Dengan demikian, total 14 personel akan bertugas memeriksa bangunan terdampak.
Pemeriksaan dimulai dari Labuan Bajo, mencakup Rumah Sakit Komodo, Kantor Bupati, dan sejumlah gedung layanan publik lain. Setelah rampung di Labuan Bajo, tim akan bergeser ke Ruteng dan wilayah lain untuk terus menyisir bangunan-bangunan yang membutuhkan pemeriksaan pasca-gempa.
Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi kepastian bagi masyarakat dan pengguna bangunan soal tingkat keamanan fasilitas yang masih dibutuhkan selama masa tanggap darurat. Data yang terkumpul selanjutnya menjadi acuan untuk menentukan langkah penanganan ataupun perbaikan yang diperlukan.
Penanganan Sarana Dan Prasarana Distribusi Air Bersih
Di samping pemeriksaan bangunan, tim Kementerian PU juga telah bergerak sejak dua hari terakhir untuk mengecek sarana dan prasarana air minum di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Nagekeo, Ende, dan Sikka. Pemeriksaan meliputi Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan perpipaan, sarana distribusi air, hingga tampungan air yang tersedia di tengah masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, BPBPK NTT menggandeng Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) untuk membantu pendataan di lapangan. Tim tidak hanya mendata, tetapi langsung menangani sarana yang mengalami gangguan.
Salah satu penanganan yang sudah berjalan berada di Kabupaten Ende, yakni perbaikan jaringan perpipaan air bersih pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba di Kecamatan Ende. Perbaikan ini dilakukan agar layanan air minum kembali normal dan bisa mendukung kebutuhan warga.
Sebanyak 10 personel tambahan juga akan diberangkatkan dari Kupang untuk membackup pemeriksaan dan penanganan sarana air minum di Maumere, Ende, dan Nagekeo pada Rabu (19/8/2026). Mereka bertugas memeriksa kondisi sarana air minum sekaligus memetakan kebutuhan dukungan lanjutan di lokasi bencana.
Kementerian PU berkomitmen memastikan ketersediaan sarana air bersih dan sanitasi bagi warga terdampak. Pada masa tanggap darurat, dua hal ini menjadi kebutuhan paling mendasar karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat maupun pengungsi.
Di Kabupaten Nagekeo, dukungan sarana air bersih saat ini berupa tiga unit Mobil Tangki Air (MTA). Dua unit di antaranya sudah berada di lokasi, sedangkan satu unit lainnya merupakan MTA pinjam pakai yang sebelumnya dipakai untuk penanganan banjir Mauponggo dan bisa dimanfaatkan kembali untuk mendukung respons gempa.
Selain itu, Kementerian PU menyediakan 16 unit Hidran Umum (HU). Delapan unit merupakan dukungan untuk penanganan saat ini, sementara delapan unit lainnya adalah HU pinjam pakai dari penanganan banjir Mauponggo. Di Kupang, masih disiagakan dua unit mobil tangki air dan satu unit truk tinja untuk kebutuhan darurat.
Kementerian PU juga tengah menginventarisasi pos-pos pengungsian agar kebutuhan air bersih dan sanitasi bisa dipenuhi dengan cepat. Jika diperlukan, mobilisasi prasarana dan sarana air minum dari luar NTT, termasuk dari depo di Surabaya, akan dilakukan.
Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih, sumber air akan dioptimalkan dari sistem penyediaan air minum atau PDAM apabila jaringannya tersedia dan berfungsi. Namun, jika sumber perpipaan belum ada atau terganggu, Kementerian PU menyiapkan alternatif lewat mobil tangki, hidran umum, tampungan air, maupun sarana pendukung lain sesuai kondisi lapangan.
Pengiriman bantuan prasarana air bersih dan sanitasi akan terus dilanjutkan secara bertahap ke wilayah yang membutuhkan. Langkah ini merupakan bagian dari respons cepat pemerintah untuk menjamin masyarakat terdampak gempa tetap memperoleh akses layanan dasar selama masa tanggap darurat.