Kinerja Keuangan BNI Semester I 2026 Tumbuh Positif Berkat Kredit Baru

Kinerja Keuangan BNI Semester I 2026 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:26:57 WIB

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan peningkatan perolehan sebesar 6,29% menjadi Rp10,8 triliun pada paruh pertama 2026, dari kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp10,16 triliun.

Pencapaian tersebut disokong oleh kenaikan penyaluran pembiayaan sebesar 24,4 % secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp968,5 triliun pada Semester I/2026.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan lembaga keuangan tersebut terus memperkokoh landasan bisnis melalui taktik ekspansi yang berfokus pada mutu, penguatan unit utama, serta pembaruan tata kelola dan sistem digital secara berkesinambungan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam pernyataan dari Sumbernya, Rabu (5/8), dilansir dari Sumbernya.

Ia menerangkan alur pembenahan usaha tersebut searah dengan agenda pembaruan BUMN di bawah naungan Danantara Indonesia yang menekankan pada penguatan landasan perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkesinambungan.

Dengan kenaikan penyaluran pembiayaan 24,4%, BNI mencatatkan proporsi pembiayaan bermasalah (non-performing loan/NPL) terjaga di kisaran 1,9 %.

Lebih lanjut, Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menerangkan kenaikan penyaluran pembiayaan tersebut disokong portofolio yang kian beragam pada bermacam bidang ekonomi dan lini usaha, mulai dari perusahaan besar, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga segmen perorangan.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," kata Paolo.

Menurut dirinya, pemekaran pembiayaan dijalankan secara cermat dengan memperhitungkan prospek industri serta profil risiko tiap-tiap peminjam guna menjaga keseimbangan antara perkembangan usaha dan mutu portofolio.

Ia menerangkan taktik perantara tersebut berjalan seiring dengan penguatan susunan pendanaan.

Di tengah persaingan simpanan yang masih ketat, dana murah atau current account savings account (CASA) tercatat meningkat 11,2% secara tahunan sehingga proporsi CASA tetap bertahan di kisaran 65,4%.

Penguatan susunan pendanaan tersebut ikut memicu efisiensi beban simpanan, yang terlihat dari penurunan beban simpanan untuk dana pihak ketiga menjadi 2,56% dibandingkan 2,78% pada kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya.

Hingga semester I/2026, hasil bunga bersih (net interest income/NII) BNI meningkat 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun, sementara hasil berbasis komisi (fee-based income/FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.

Kenaikan kedua saluran hasil tersebut memicu perolehan operasional sebelum alokasi cadangan (pre-provision operating profit/PPOP) menyentuh Rp18,5 triliun, capaian puncak dalam sejarah BNI untuk kurun waktu enam bulan pertama.

Adapun perolehan bersih institusi tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Dari sisi teknologi digital, total pengguna perangkat lunak perbankan digital wondr by BNI menyentuh 15,1 juta hingga akhir Juni 2026 dengan akumulasi transaksi meningkat 110% secara tahunan.

Sementara itu, pada lini wholesale, total pengguna BNIdirect menyentuh 280 ribu dengan akumulasi transaksi meningkat 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

Institusi menerapkan agenda Branch, Region and Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh area kerja untuk memperkokoh peran kantor cabang sebagai pusat pemasaran, memacu efisiensi jaringan, serta memaksimalkan peluang usaha di setiap lokasi.

Dari sisi mutu aset, proporsi loan at risk (LAR) membaik dari 11% menjadi 8,1%, sedangkan proporsi NPL tetap berada di kisaran 1,9%.

Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada menyatakan mutu aset tersebut merupakan hasil penerapan pengelolaan risiko secara teratur dan konsisten mulai dari penetapan bidang utama, analisis kelayakan peminjam, hingga pengawasan usai penyaluran pembiayaan.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ucap David.

Reporter: Moch Febrianto