Prediksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS di Tengah Eskalasi Global

Prediksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Kamis, 30 Juli 2026 | 12:30:23 WIB

JAKARTA - Kurs nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam bayang-bayang tekanan faktor global saat transaksi Kamis (30/7) sebagai dampak dari keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketegangan internasional.

Berdasarkan pencatatan data Bloomberg pada Rabu (29/7), nilai rupiah di pasar spot merayap naik 0,06% pada posisi Rp 18.073 per dolar AS.

Dalam kesempatan yang sama, mata uang Garuda pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan angka Rp 18.087 per dolar AS, serta di Trading Economics menetap di angka Rp 18.059,7 per dolar AS.

Pengamat PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai kalau depresiasi rupiah pada transaksi perdagangan Rabu didominasi oleh dominasi dolar AS sejalan dengan kian berkembangnya ekspektasi bahwa The Fed hendak memelihara suku bunga tinggi dalam jangka lebih panjang.

Para pelaku pasar malah mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga acuan bilamana laju inflasi internasional kembali naik akibat lonjakan biaya energi.

Selain faktor itu, eskalasi gesekan AS-Iran yang kembali mencuat membuat harga minyak bertahan di rentang tinggi sehingga makin memperkuat dorongan permintaan dolar AS sebagai petrodollar.

Kondisi ini secara langsung mendongkrak ketakutan atas naiknya inflasi impor (imported inflation) bagi negara-negara pengimpor minyak layaknya Indonesia.

Gabungan bermacam pemicu tersebut menjadi hambatan utama yang menahan laju penguatan mata uang Garuda.

Menghadapi sesi transaksi Kamis (30/7), Brahmantya mencermati pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada riak konflik AS-Iran dan kondisi jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Arah pergeseran Indeks Dolar AS (DXY) serta publikasi data ekonomi AS tentang inflasi dan pasar tenaga kerja turut menjadi fokus primer bagi para investor.

"Selama harga minyak masih tinggi dan pasar memperkirakan The Fed tetap hawkish, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda," kata Brahmantya kepada dari Sumbernya, Rabu (29/7/2026).

Dia menyampaikan tantangan terbesar rupiah saat ini bukan hanya berasal dari indeks dolar AS, melainkan juga dari meningkatnya kebutuhan valas untuk transaksi energi global.

Langkah balasan Bank Indonesia melalui aksi intervensi pasar valas dan kebijakan penstabilan kurs amat ditunggu untuk menepis pelemahan lebih lanjut.

Memperhitungkan rangkaian faktor tersebut, Brahmantya memproyeksikan pergerakan rupiah akan berlangsung fluktuatif pada sesi perdagangan esok hari.

"Saya memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000–Rp 18.150 per dolar AS," ujar Brahmantya.

Seandainya sentimen internasional tetap disetir oleh keperkasaan dolar AS dan harga minyak terus membubung, rupiah berpotensi kembali menguji kisaran resistensi di level Rp 18.200–Rp 18.300 per dolar AS.

Namun demikian, apabila dolar AS mulai merosot atau hadir sentimen positif dari pasar internasional, rupiah memiliki kesempatan untuk kembali menguat menuju zona support Rp 18.000 per dolar AS.

Reporter: Moch Febrianto