Pergerakan Rupiah Diproyeksikan Melanjutkan Koreksi Akibat Sentimen
JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah berpotensi kembali tertekan pada sesi transaksi hari ini (27/7/2026).
Serangkaian gabungan sentimen, berawal dari ketegangan geopolitik dunia hingga risiko pembengkakan defisit neraca perdagangan nasional menjadi pemicu mata uang rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg pada hari Jumat (24/7/2026), mata uang Garuda ditutup menyusut 0,15% menuju level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan posisi sebelumnya pada angka Rp 17.936.
Pada saat yang sama, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat pergerakan rupiah berada di angka Rp 17.973 per dolar AS.
Faktor eksternal yang makin memanas diperkirakan masih menjadi penyebab penekan utama arah mata uang nasional pada sesi transaksi berikutnya.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa melonjaknya indeks dolar AS pada Jumat (24/7/2026) diakibatkan oleh tindakan Presiden AS Donald Trump yang resmi mengundangkan tarif impor baru 10% hingga 12,5% terhadap 60 negara rekan dagang, termasuk Indonesia.
Pada sudut lain, memuncaknya ketegangan Timur Tengah usai penyerangan Houthi atas dua tanker minyak Saudi serta penolakan usulan moratorium perang oleh Iran turut mendorong nilai minyak mentah.
"Eskalasi yang diperbarui membantu menaikkan harga minyak, sementara data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/7/2026).
Selain faktor gejolak geopolitik dan ketatnya kebijakan The Fed, kendala suplai minyak global akibat penghentian sementara terminal ekspor Kazakhstan ikut memperberat dinamika pasar.
Dari dalam negeri, peningkatan kebutuhan dolar AS guna menutup defisit impor energi yang melampaui 1,5 juta barel per hari kian menggerus kekuatan eksternal Indonesia.
Ibrahim menyampaikan, kondisi ini mengancam pergerakan ekonomi triwulan III-2026 berbarengan harga minyak bumi yang melewati sasaran APBN-P senilai US$ 83 per barel.
"Kenaikan akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026," tutur Ibrahim.
Beban makin nyata pasca Badan Pusat Statistik (BPS) mendata defisit neraca perdagangan mencapai US$ 1,61 miliar, menghentikan puncaknya surplus selama 72 bulan tanpa henti.
Situasi ini disebabkan oleh tingginya impor yang mencapai US$ 24,81 miliar atau meningkat 22,16% secara tahunan pada Mei 2026, yang didominasi oleh impor bahan baku dan penolong.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 menurun ke rentang 5,4%, meski optimistis bergerak naik pada semester II lewat penguatan likuiditas perekonomian.
Mengawali perdagangan Senin (27/7/2026), kurs rupiah diproyeksikan bergerak variatif, namun cenderung ditutup terkoreksi pada rentang Rp 17.960–Rp 18.020 per dolar AS.
Ibrahim mengestimasikan, himpitan pasar valas akan membayangi sepanjang minggu depan dengan kisaran fluktuasi yang lebih lebar.
"Sedangkan range untuk minggu depan rupiah diperkirakan di level Rp 17.880–Rp 18.250," kata Ibrahim.