Investor Asing Kurangi Porsi Modal Emerging Market, Ini Dia Alasannya!

Investor Asing Kurangi Porsi Modal Emerging Market (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 27 Juli 2026 | 11:00:46 WIB

JAKARTA - Pemodal luar negeri mulai memangkas penempatan investasi mereka pada beberapa negara berkembang atau emerging market.

Kondisi tersebut terlihat lewat meningkatnya aliran dana keluar investor asing pada berbagai negara, termasuk India dan Indonesia.

India menjadi salah satu negara yang mencatat pembalikan aliran dana yang cukup signifikan.

Negara tersebut membukukan aliran dana keluar bersih sebesar US$ 2,4 miliar pada Mei 2026, berbanding terbalik dari aliran dana masuk bersih senilai US$ 3,7 miliar pada Mei 2025.

Salah satu pendorong derasnya aliran dana keluar tersebut yakni tindakan pelepasan oleh investor portofolio asing atau foreign portfolio investor (FPI).

Selama Mei 2026, FPI tercatat melakukan penjualan bersih sebesar US$ 4,7 miliar.

Sementara itu, penanaman modal asing langsung (FDI) bersih India turut tercatat minus US$ 0,1 miliar, yang menandakan beban juga merembet pada arus investasi jangka panjang.

Kondisi serupa turut membayangi pasar keuangan Indonesia.

Aliran modal keluar asing masih menjadi salah satu beban utama pada pasar domestik, yang tampak lewat kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).

Yield SBN tenor 10 tahun tercatat berada pada tingkat 7,37% per 24 Juli 2026, meningkat 1,89% dalam seminggu terakhir dan melesat 13% secara tahunan (year on year/yoy).

Lonjakan yield ini menunjukkan investor luar negeri meminta imbalan yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko guna masuk ke pasar Indonesia.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia (SSI), Harry Su menyampaikan, gejala capital outflow saat ini terjadi secara menyeluruh di berbagai pasar negara berkembang.

Sedikitnya terdapat tiga pendorong utama yang memicu tren tersebut.

Pertama, ketetapan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang tampil lebih hawkish.

Kedua, gejolak harga energi lantaran meningkatnya ketegangan di area Timur Tengah.

Ketiga, persepsi risk-off di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dunia.

Modal asing yang keluar dari emerging market, kata Harry, mengalir menuju sejumlah kawasan serta instrumen yang dinilai sebagai aset safe haven maupun diuntungkan oleh tren struktural baru.

Beberapa di antaranya yakni pasar keuangan Amerika Serikat, lini infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta pergeseran ke lini komoditas energi dan bahan mentah.

Tekanan Outflow Berpotensi Berlanjut

Harry memperkirakan beban capital outflow masih akan berlanjut dalam jangka pendek sampai menengah.

"Penyebabnya adalah beban fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang meningkat, serta depresiasi nilai tukar rupiah yang turut menggerus prospek pertumbuhan," kata Harry dari Sumbernya, Minggu (26/7/2026).

Walau demikian, Harry memandang investor luar negeri masih berpeluang kembali masuk (capital inflow) bilamana terjadi pergeseran pada beberapa titik balik makro dunia.

Contohnya, timbulnya indikasi deflasi dan pivot ketetapan The Fed, seperti penurunan harga minyak dunia atau meredanya inflasi di AS yang memicu The Fed melunakkan kebijakan moneter menuju era pemotongan suku bunga.

Selanjutnya, de-eskalasi geopolitik, khususnya meredanya perselisihan antara AS dan Iran di Timur Tengah, yang berpotensi menekan premi risiko dunia terlihat dari credit default swap (CDS) serta menstabilkan ongkos energi.

Kemudian, kedisiplinan fiskal dalam negeri.

Harry menekankan pentingnya langkah riil pemerintah Indonesia dalam menekan defisit APBN, menjaga kestabilan subsidi, serta memenuhi kepatuhan tata tertib pasar modal, termasuk kriteria indeks MSCI, demi memulihkan kepercayaan pemodal jangka panjang.

Secara terpisah, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee menyampaikan, aliran dana keluar pemodal asing dari emerging market didorong oleh tingginya minat investor dunia terhadap lini kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.

Sayangnya, Indonesia dan India tergolong negara yang minim pangkalan perusahaan AI maupun semikonduktor, sehingga kalah memikat dibandingkan negara lain yang memiliki porsi kuat di lini tersebut.

"India dengan Indonesia itu kami kekurangan perusahaan yang basis AI dan semikonduktor," ucap Hans.

Di samping pendorong global tersebut, beban dari dalam negeri turut memberatkan posisi pasar modal Indonesia.

Lembaga indeks MSCI sempat mengancam menurunkan peringkat Indonesia ke kelompok frontier market.

Pada saat bersamaan, lembaga pemeringkat Fitch dan Moody's juga sempat mengancam memangkas outlook utang Indonesia, yang turut menekan pasar serta memicu capital outflow.

Meski begitu, Hans menilai tekanan dari MSCI bersifat sementara.

Lantaran, MSCI merupakan dasar bagi reksadana pasif (passive fund), sehingga modal asing yang keluar akibat pengurangan alokasi Indonesia, di mana enam saham Indonesia dipangkas dari Indonesia cuma terjadi pada bulan Mei.

"Pasca itu, pasar kami lebih didorong oleh minimnya basis teknologi, AI, dan semikonduktor, ditambah ancaman soal transparansi dan pengelolaan anggaran pemerintah," ucap Hans.

Hans juga menjelaskan, pada fase awal, capital outflow paling banyak terjadi di pasar saham.

Keadaan ini dinilai wajar sebagai bagian dari pergeseran aset yang lazim terjadi.

Sementara di pasar obligasi, outflow yang terjadi tidak terlalu signifikan bahkan mulai berbalik arah, dengan modal asing kembali masuk ke pasar SBN.

Sebagian dana yang keluar dari pasar saham maupun surat utang domestik tertahan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Hans memproyeksikan arah capital outflow tidak akan berlanjut signifikan.

Terdapat dua pertimbangan di balik proyeksi tersebut.

Pertama, yield obligasi Indonesia dinilai cukup memikat, sehingga modal asing mulai kembali masuk ke pasar SBN.

Kedua, kekhawatiran atas potensi bubble di lini AI membuat investor dunia mulai melakukan rebalancing portofolio menuju saham-saham yang lebih defensif dan bernilai (value).

Dalam konteks ini, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang masuk kategori undervalued, sehingga berpeluang diuntungkan dari pergeseran taktik investasi tersebut.

Walau begitu, Hans mengingatkan bahwa ketidakpastian dunia kembali meningkat seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak sekaligus masih menyalurkan subsidi bagi BBM jenis Pertalite.

Terdapat dua dampak utama yang mesti diwaspadai.

Pertama, beban terhadap nilai tukar rupiah akibat penguatan indeks dolar AS di tengah lonjakan konflik, ditambah harga BBM yang tinggi, berpotensi memicu impor lebih besar dan memperlebar defisit neraca perdagangan.

Kedua, beban subsidi energi berpotensi melonjak seiring harga beli yang lebih tinggi serta pergeseran konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite dampak kenaikan harga Pertamax.

"Ini menyebabkan defisit anggaran kami melebar, itu menyebabkan asing itu bergerak keluar dari kami. Ini yang jadi masalah," terang Hans.

Selain itu, Hans juga menegaskan, sentimen dari dalam negeri yang perlu menjadi perhatian yaitu konsistensi dalam menjalankan reformasi pasar modal.

Selanjutnya, pemerintah juga perlu melakukan reformasi anggaran serta memastikan tata kelola fiskal dijalankan secara hati-hati, termasuk mengevaluasi alokasi anggaran bagi sejumlah program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).

"Jadi kami harus hati-hati ya dengan program prioritas pemerintah yang memakai anggaran terlalu besar. Itu haru di kelola dengan baik," jelas Hans.

Strategi bagi Investor

Di tengah ketidakpastian tersebut, Harry membagikan sejumlah taktik yang dapat dipertimbangkan pemodal.

Pertama, pergeseran ke saham berorientasi komoditas dan energi.

Investor dapat mengalihkan sebagian portofolio saham ke emiten penghasil komoditas energi seperti minyak, gas, dan batu bara, serta bahan mentah yang memiliki fungsi pelindung nilai alami terhadap inflasi dunia.

Kedua, mengamankan likuiditas.

Harry menyarankan pemodal menyiapkan porsi uang tunai maupun reksa dana pasar uang yang cukup besar supaya tetap fleksibel dan siap membeli aset-aset berfundamental baik ketika harganya merosot sangat dalam (undervalued) akibat kepanikan pasar.

Ketiga, memanfaatkan yield SBN jangka pendek maupun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurut Harry, tingginya yield SBN tenor 10 tahun yang berada di kisaran 7,37%, ditambah imbal hasil SRBI yang ditetapkan tinggi oleh Bank Indonesia, menjadi kesempatan bagi investor lokal untuk mengunci imbalan (fixed income) yang relatif bebas risiko gagal bayar.

Reporter: Moch Febrianto