Penguatan Kurs Rupiah Bayangi Beban Impor dan Batas Bunga Tinggi

Penguatan Kurs Rupiah (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 21 Juli 2026 | 10:47:35 WIB

JAKARTA - Pergerakan mata uang rupiah terpantau menguat menembus di bawah Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat penurunan tajam indeks dolar global, walaupun tren peningkatannya tetap dibayangi ancaman volatilitas dalam negeri.

Melihat data Bloomberg di akhir pekan, mata uang Garuda pada perdagangan spot mengakhiri hari dengan penguatan ke posisi Rp 17.921 per dolar AS usai indeks dolar AS (DXY) pada platform Trading Economics turun ke posisi 100,765.

Akan tetapi, tren apresiasi mata uang nasional ini diprediksi belum berlanjut lama lantaran besarnya kebutuhan valas domestik ditambah beban dari impor energi.

Penurunan indeks dolar global dalam rentang pendek ini terkonfirmasi baru sebagai pendorong eksternal semata, bukan pemicu utama pulihnya performa rupiah secara permanen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menerangkan bahwa penurunan dolar akibat meredanya inflasi AS sampai saat ini hanya berupa koreksi lantaran pelaku pasar menantikan kejelasan suku bunga The Fed.

Berdasarkan pandangannya, dorongan dari luar negeri itu belum terbilang tangguh guna mendorong rupiah ke bawah level Rp 17.500 apabila tidak disertai pemulihan suplai devisa dari dalam negeri.

Yusuf turut memperingatkan bahwa celah Bank Indonesia (BI) dalam mendongkrak suku bunga demi mengamankan nilai tukar kian terbatas lantaran menimbulkan ongkos ekonomi yang tinggi.

"Fokus berikutnya seharusnya bergeser pada peningkatan pasokan devisa melalui implementasi DHE SDA, menjaga kredibilitas fiskal agar kepercayaan investor tetap terpelihara, serta memperbaiki struktur ekspor dan mengurangi ketergantungan impor energi," ujar Yusuf dari Sumbernya, Jumat (17/6/2026).

Maka dari itu, pihak otoritas moneter bersama pemerintah disarankan supaya mendesak memindahkan fokus strategi stabilisasi ke penguatan sektor riil dibanding terus-menerus mengikis cadangan devisa.

Ketersediaan devisa dari ranah tata kelola komoditas maupun ekspor bernilai tambah amat mendesak ditingkatkan demi menekan dampak negatif ketidakpastian geopolitik dunia.

Yusuf menyebutkan bahwa pada kuartal III-2026, dinamika nilai tukar rupiah diperkirakan bakal bergerak naik-turun dalam kisaran Rp17.700 sampai Rp18.200 per dolar AS dengan arah yang amat bergantung terhadap arus dana asing.

"Perlu ditekankan perbedaan antara rupiah yang stabil karena ditopang suku bunga tinggi dan intervensi dengan rupiah yang benar-benar kuat karena ditopang fundamental ekonomi dan masuknya devisa," pungkas Yusuf.

Reporter: Moch Febrianto