Rupiah Tertekan, IHSG Berpotensi Terkoreksi di Rentang 5.550 hingga 5.650

Ilustrasi Rupiah, Sumber: dbs.
Penulis: Aaina Salsa Bila
Kamis, 02 Juli 2026 | 08:22:27 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan 1 Juli 2026 berhasil ditutup menguat 0,92% atau 51,92 poin ke level 5.695. Kinerja positif ini tercapai meski data ekonomi makro sedang tertekan, yang terlihat dari PMI Manufaktur di zona kontraksi, kenaikan inflasi, serta defisit neraca dagang.

Indonesia mencatat defisit neraca dagang sebesar USD1,6 miliar pada Mei 2026, yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan sejak Mei 2020. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan impor migas sebesar 70,8% yoy, total impor 22,2% yoy, serta penurunan ekspor 5,73% yoy.

Inflasi konsumen pada Juni 2026 juga naik ke 3,34% yoy dari 3,08% yoy, seiring penyesuaian harga BBM non subsidi, sementara BI menargetkan inflasi 2026 tetap di rentang 1,5%-3,5%. Selain itu, nilai tukar rupiah masih terdepresiasi di level Rp17.985/USD.

Sentimen global turut mempengaruhi pasar, di mana bursa Wall Street terkoreksi setelah Ketua Fed menegaskan komitmen target inflasi 2%. Pasar kini mencermati sektor dengan belanja modal tinggi serta menanti laporan keuangan mendatang. Bursa Asia Pasifik juga mengalami aksi ambil untung dengan rincian:

Nikkei 225 turun 1,2% 

KOSPI turun 4,02% 

Saham Samsung turun 6,4% 

Saham SK Hynix turun 7,8%

Di sisi lain, IHSG hari ini diprediksi mengalami koreksi dalam rentang 5.550-5.650. "Kami menegaskan komitmen bank sentral terhadap target inflasi 2%," ujar Ketua Fed dalam forum European Central Bank di Portugal.

Reporter: Aaina Salsa Bila