Penurunan Harga Emas Juni 2026 Capai 12,4 Persen, Dipicu Suku Bunga dan Dolar AS

Ilustrasi Emas Batangan (sumber foto: NET)
Rabu, 01 Juli 2026 | 07:57:48 WIB

JAKARTA – Harga emas tergelincir lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (30/6/2026) dan berada di jalur penurunan bulanan terbesar dalam 18 tahun terakhir. Mengutip Trading Economics, harga emas spot turun 1% menjadi US$3.975,04 per ons troi pada pukul 11.45 WIB.

Sepanjang Juni 2026, emas tercatat anjlok 12,4% dan menjadi penurunan bulanan keempat berturut-turut. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,2% ke US$3.988,6 per ons troi.

Penurunan ini dipicu oleh kombinasi inflasi tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta penguatan dolar AS. Analis Marex, Edward Meir, mengatakan, “Anda mempunyai inflasi yang tinggi, ekspektasi suku bunga yang tinggi, dan dolar yang kuat, dan hal tersebut mengesampingkan semua faktor bullish lainnya yang biasanya dikaitkan dengan reli emas.”

Investor kini menunggu rilis data ketenagakerjaan ADP dan nonfarm payroll bulan Juni untuk mengukur lebih jauh sikap The Fed terhadap kebijakan suku bunga. CME FedWatch Tool mencatat peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 64%.

Di sisi geopolitik, perang Iran memicu lonjakan harga energi yang menambah kekhawatiran inflasi. Meski AS dan Iran dijadwalkan melanjutkan pembicaraan perdamaian di Doha, Qatar, prospek gencatan senjata masih belum jelas.

Christopher Wong – Strategi Logam Mulia OCBC “Emas yang naik membutuhkan setidaknya satu dari tiga hal yang perlu diperbaiki: imbal hasil riil yang lebih rendah, USD yang lebih lemah, atau penurunan ekspektasi Fed yang lebih hawkish. Tanpa hal tersebut, reli kemungkinan akan memudar dan emas mungkin menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkonsolidasi di bawah level tertinggi sebelumnya.”

Selain emas, logam mulia lain juga melemah. Perak di pasar spot turun 1,6% ke US$57,35 per ons, platinum turun 0,5% ke US$1.566,90, sementara paladium naik tipis 0,5% ke US$1.219,55. Ketiganya berada di jalur kerugian bulanan dan kuartalan.

Reporter: Diaz Muhammad Hanif