Saham Pilihan Kompas 100 Semester II 2026, Perbankan dan Telekomunikasi Jadi Andalan Investor
JAKARTA – Indeks Kompas 100 mencatat penurunan 39,01% year to date (ytd) hingga akhir perdagangan Selasa (30/6/2026), lebih dalam dibandingkan koreksi IHSG sebesar 34,74%. Meski tertekan, analis menilai semester II-2026 berpotensi menjadi fase bottoming dan akumulasi, dengan peluang pemulihan secara bertahap.
Brigita Kinari – Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas. Koreksi hampir 39% membuat valuasi saham blue chip lebih atraktif secara historis. Ruang penurunan lebih terbatas meski volatilitas jangka pendek masih berpotensi berlanjut. Sentimen positif bisa datang dari penurunan harga energi, disiplin harga telekomunikasi, serta pertumbuhan laba perbankan yang solid. Pasar masih dibayangi ketidakpastian arus dana asing, tingginya suku bunga, dan evaluasi MSCI pada November 2026. Semester kedua lebih merupakan fase bottoming dan akumulasi dibandingkan dengan reli agresif.
Alrich Paskalis Tambolang – Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas. Prospek semester II lebih kondusif dibanding semester I, meski volatilitas tetap tinggi. Valuasi lebih menarik untuk membuka peluang re-rating jika sentimen global dan domestik membaik. Katalis domestik: percepatan belanja pemerintah, proyek strategis nasional, stabilitas inflasi, dan konsumsi masyarakat. Katalis global: arah kebijakan suku bunga, tensi geopolitik, stabilitas harga komoditas, serta arus dana asing. Investor lebih selektif, fokus pada emiten berfundamental kuat, profitabilitas stabil, dan prospek pertumbuhan berkelanjutan.
Rekomendasi Saham Brigita Kinari BBCA – kualitas aset dan profitabilitas konsisten. BBNI – pertumbuhan kredit kuat dan valuasi murah. TLKM – disiplin harga industri, valuasi atraktif. KLBF, MYOR, AMRT – konsumer, margin membaik dari penurunan harga energi dan BBM nonsubsidi. ANTM – eksposur emas dan hilirisasi mineral. ASII – valuasi atraktif, diversifikasi bisnis, potensi kinerja UNTR, rencana buyback menopang harga.
Rekomendasi Saham Alrich Paskalis BBCA – kualitas aset sangat baik, profitabilitas tinggi, pertumbuhan kredit konsisten. BMRI – transformasi digital, pertumbuhan kredit korporasi dan ritel, valuasi menarik. KLBF – defensif, diversifikasi farmasi, nutrisi, distribusi, ekspansi digital health. TLKM – fundamental solid, dominasi telekomunikasi nasional, pertumbuhan layanan data, pengembangan data center. ICBP, MYOR – konsumen, permintaan domestik stabil, distribusi kuat, margin terjaga.
Strategi Alrich wait and see untuk BMRI, BBCA, TLKM. Sell on strength untuk KLBF dan MYOR yang sudah naik secara signifikan.
Dengan kondisi pasar yang masih volatil, analis menekankan pentingnya fokus pada emiten berfundamental kuat dan selektif dalam akumulasi saham di semester II-2026.