JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak pada rentang 6.100 hingga 6.250 pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Pergerakan ini terjadi setelah adanya pengumuman resmi bahwa pasar saham Indonesia masih mempertahankan statusnya di dalam kelompok pasar negara berkembang (emerging markets).
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup mengalami penurunan sebesar 48,40 poin atau sekitar 0,78% ke level 6.172,34 pada penutupan perdagangan Kamis (18/6/2026). Sepanjang hari tersebut, indeks bergerak di rentang terendah 6.073,72 hingga mencapai level tertinggi 6.197,17.
Dari sisi likuiditas pasar, total nilai transaksi tercatat mencapai Rp17,95 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 23,68 miliar saham. Frekuensi perdagangan dilakukan sebanyak 1,779 juta kali.
Kondisi pergerakan saham pada hari tersebut adalah sebagai berikut: Sebanyak 271 saham bergerak menghijau Sebanyak 445 saham memerah Sebanyak 243 saham cenderung stagnan
Tim riset menyatakan bahwa penutupan IHSG yang melemah dipengaruhi oleh sentimen yang beragam. Para investor cenderung bersikap hati-hati menjelang rebalancing indeks FTSE serta pengumuman dari penyedia indeks global. Dari sektor domestik, sesuai perkiraan, Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% sebagai langkah mendukung stabilisasi Rupiah dan meredam inflasi.
Secara akumulatif, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 bps dan menempatkan BI Rate pada level tertinggi sejak April 2025. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah ditutup menguat 0,16% di level Rp17.710/US$. Sementara itu, terdapat kabar global mengenai pemimpin Amerika Serikat dan Iran yang menandatangani nota kesepahaman digital untuk kesepakatan perdamaian permanen.
"Secara teknikal, diperkirakan IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.100-6.250," tulis tim.
Penyedia indeks global menetapkan Indonesia tetap berada dalam status pasar negara berkembang, kendati memberikan sejumlah catatan kritis. Sorotan utama diarahkan pada persoalan transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi di pasar modal yang dinilai dapat mengganggu proses pembentukan harga wajar.
Dalam laporan peninjauan aksesibilitas pasar global pada Kamis (18/6/2026), penilaian Indonesia pada kriteria arus informasi mengalami penurunan dari "+" menjadi "-". Penurunan ini menempatkan Indonesia bersama Turki sebagai negara yang mengalami kemunduran aksesibilitas pasar dalam siklus peninjauan tahun ini.
Pihak penyedia indeks menyebutkan bahwa secara umum terdapat lebih banyak peningkatan dibandingkan penurunan penilaian di kelompok negara berkembang. Namun, penurunan yang dialami dipicu oleh masalah struktural berupa kurangnya transparansi kepemilikan saham dan kekhawatiran terhadap praktik perdagangan terkoordinasi yang memengaruhi kualitas informasi pasar.
"Di Indonesia, kekhawatiran aksesibilitas muncul akibat berlanjutnya ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi sehingga mengganggu pembentukan harga yang wajar," tulis MSCI dalam laporannya.
Menurut pihak penyedia indeks, situasi tersebut secara material membatasi kemampuan para investor institusi global dalam menilai tingkat free float yang sebenarnya. Hambatan ini juga menyulitkan investor untuk mengandalkan harga pasar yang terbentuk dalam pemenuhan kebutuhan penyusunan portofolio maupun replikasi indeks.