Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif di Rentang Rp18.050 hingga Rp18.120
JAKARTA - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan melemah pada perdagangan hari ini, Jumat 5 Juni 2026. Pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026, rupiah ditutup melemah 0,46% atau 82 poin ke Rp18.049 per dolar AS, yang merupakan level terendah sepanjang masa. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,10% ke 99,42.
Seorang pengamat mata uang dan komoditas memperkirakan depresiasi nilai tukar akan berlanjut. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 sampai Rp18.120 per dolar AS," ungkapnya, Kamis 4 Juni 2026.
Saat ini, sentimen yang menyertai rupiah di pasar keuangan berasal dari perkembangan konflik geopolitik global. Investor disebut tetap berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.
Washington baru saja mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah.
"Pasukan Israel memperluas operasi militer di Lebanon selatan, menargetkan daerah yang dikuasai Hizbullah dalam beberapa hari terakhir," tambahnya.
Selain konflik, perhatian pasar kini beralih ke data ekonomi AS, khususnya laporan penggajian non-pertanian yang dipantau ketat pada hari Jumat.
Data dari perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan bahwa perusahaan swasta AS menambah 122.000 pekerjaan pada bulan Mei, melebihi ekspektasi ekonom dan meningkat dari kenaikan bulan sebelumnya.
Terkait sentimen domestik, terdapat kekhawatiran yang meningkat setelah lonjakan harga minyak mentah memicu risiko defisit fiskal mendekati 3%.
Hal ini berimbas pada kekhawatiran intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, serta kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadap pasar modal yang belum memiliki keputusan pasti.
Tim riset sekuritas menilai pelemahan rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal meningkatnya tekanan struktural terhadap posisi eksternal Indonesia.
Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah sekitar 8% dipicu derasnya arus keluar dana asing terkait penyesuaian indeks MSCI, menyusutnya surplus perdagangan, hingga membengkaknya biaya impor energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pemerintah sebelumnya berharap kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam mampu meningkatkan pasokan devisa domestik hingga sekitar US$2 miliar per bulan.
Namun, dampak stabilisasi dari kebijakan tersebut dinilai belum terlihat di pasar valas. Situasi geopolitik global juga semakin memanas setelah eskalasi militer yang melibatkan Iran, Kuwait, dan Amerika Serikat kembali meningkatkan premi risiko harga minyak.
Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap negara importir energi seperti Indonesia.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar kini menunggu hasil peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI pada 18 Juni mendatang. Pasar khawatir tekanan terhadap status Indonesia dalam indeks global itu berpotensi memicu gelombang baru arus keluar dana pasif asing.
Sementara itu, kurva imbal hasil obligasi pemerintah kini mengalami inversi setelah yield tenor pendek bergerak lebih tinggi dibanding tenor 10 tahun.
Menurut tim riset tersebut, kondisi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi, potensi pengetatan kebijakan lebih lanjut, atau kombinasi dari keduanya.