JAKARTA – Kondisi pasar valuta asing domestik kembali menunjukkan tren yang kurang menggembirakan bagi mata uang Garuda pada pembukaan perdagangan tengah pekan ini. Tekanan hebat ini muncul sebagai dampak langsung dari dinamika politik luar negeri yang melibatkan dua kekuatan besar di Timur Tengah dan Amerika Serikat.
Kemandekan dialog perdamaian yang selama ini dinanti antara pihak Washington dan Teheran menjadi pemicu utama kegelisahan para investor global. Akibatnya, sentimen negatif tersebut menjalar dengan cepat ke pasar uang Asia dan menyebabkan rupiah kehilangan kekuatannya di hadapan dolar.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, pergerakan nilai tukar menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan sejak bel pembukaan berbunyi. Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi melemah 32 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.275 dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.243 per dolar AS.
Lonjakan harga komoditas energi dunia secara otomatis mengikuti kegagalan negosiasi yang terjadi di meja diplomasi internasional tersebut. Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia hari Selasa (28/4), didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran.
Josua Pardede selaku Kepala Ekonom Permata Bank memberikan pandangan mendalam mengenai faktor teknis yang mengganggu stabilitas nilai tukar saat ini. Beliau menekankan bahwa terhentinya pembicaraan damai tersebut memberikan efek domino yang cukup serius bagi ekonomi domestik.
“Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia hari Selasa (28/4), didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Akibatnya, kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ucapnya sebagaimana dilansir dari sumbernya, Rabu.
Isu mengenai Selat Hormuz kembali mencuat setelah Iran mencoba mengajukan persyaratan baru yang cukup kontroversial bagi pihak Barat. Iran disebut menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz pada pekan ini, namun sebagian besar pihak di Washington skeptis terhadap proposal tersebut.
Ketidakpercayaan pihak Amerika Serikat muncul karena Teheran dianggap masih mencoba mengulur waktu terkait pembahasan agenda utama mereka. Keraguan ini muncul karena proposal tersebut melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir di Teheran yang menjadi fokus utama keamanan dunia.
Di sisi lain, respons dari pimpinan tertinggi Amerika Serikat menunjukkan sikap yang cukup keras terhadap tawaran diplomatik yang diberikan pihak lawan. Presiden AS Donald Trump sendiri tak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang.
Informasi yang dihimpun dari lingkaran internal menyebutkan bahwa skema yang diajukan tidak menyentuh akar permasalahan yang diinginkan Washington. Sumber-sumber Iran mengungkapkan proposal Teheran menghindari pembahasan program nuklir hingga permusuhan berhenti dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan.
Kondisi ketidakpastian ini diperparah dengan fluktuasi harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar internasional yang kian tidak menentu. Mengutip Anadolu, harga komoditas juga menunjukkan tren beragam di tengah ketegangan akibat konflik AS dengan Iran yang belum terselesaikan.
Faktor utama yang menjadi perhatian khusus bagi pelaku pasar adalah ancaman penutupan jalur logistik energi paling vital di dunia. Krisis ini terutama terjadi akibat penutupan Selat Hormuz, sehingga memicu ekspektasi inflasi dan keputusan kebijakan moneter oleh bank sentral AS.
Para analis ekonomi melihat bahwa beban biaya energi yang tinggi akan terus membayangi pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan. Ketidakpastian atas negosiasi perdamaian, kekhawatiran pasokan, dan biaya energi yang terus tinggi memicu perkiraan peningkatan inflasi global.
Situasi ini kemudian memaksa bank sentral Amerika Serikat untuk memikirkan ulang strategi suku bunga mereka yang sangat berpengaruh pada rupiah. Hal tersebut berimplikasi terhadap kemungkinan The Fed dalam mengadopsi pendekatan lebih hati-hati ke depannya dalam menjaga stabilitas ekonomi mereka.
Belum selesai dengan urusan Iran, pasar kembali dikejutkan dengan manuver politik salah satu produsen minyak terbesar di kawasan Teluk. Sentimen lain berasal dari keputusan Uni Emirat Arab (UAE) menarik diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+.
Keputusan mengejutkan dari negara kaya minyak tersebut dipastikan akan membawa perubahan besar dalam peta kekuatan energi dunia. Kebijakan strategis ini akan mulai diterapkan secara resmi dan berlaku efektif mulai tanggal 1 Mei 2026 mendatang.
Josua Pardede kembali menggarisbawahi bahwa langkah Uni Emirat Arab ini adalah bensin tambahan bagi api ketegangan yang sudah berkobar. Keluarnya salah satu anggota penting dari aliansi minyak tersebut menciptakan ketakutan baru di mata para spekulan pasar uang.
“Semalam, UAE mengumumkan keputusannya untuk keluar dari OPEC dan OPEC+, yang menambah kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Josua sebagaimana diberitakan oleh sumbernya, Rabu.
Josua Pardede berpendapat bahwa rentetan kejadian di Timur Tengah ini secara kolektif memperlemah daya tawar mata uang di negara-negara berkembang. Beliau melihat akumulasi risiko ini sebagai tantangan berat bagi ketahanan ekonomi nasional dalam jangka pendek.
Seluruh faktor eksternal tersebut akhirnya membentuk batasan baru bagi ruang gerak nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkarakan bergerak di kisaran Rp17.200-Rp17.325 per dolar AS untuk sisa hari perdagangan.
Pasar kini hanya bisa menunggu apakah ada titik terang dari meja perundingan untuk meredakan gejolak yang sedang terjadi. Selama solusi permanen belum ditemukan, maka tekanan terhadap aset-aset berisiko termasuk mata uang rupiah diprediksi akan terus berlanjut.