Rupiah Terpuruk Cetak Rekor Terlemah Mei 2026

ilustrasi pasar keuangan
Penulis: Moch Febrianto
Sabtu, 02 Mei 2026 | 15:18:53 WIB

JAKARTA – Pasar keuangan tanah air kini tengah menghadapi guncangan hebat menyusul posisi nilai tukar rupiah yang terus terperosok hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran meluas di kalangan pelaku pasar yang memantau pergerakan mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data perdagangan spot terbaru, mata uang rupiah terpaksa ditutup melemah nol koma dua belas persen ke posisi Rp17346 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi catatan paling buruk sepanjang masa yang memperlihatkan betapa kuatnya tekanan eksternal maupun internal terhadap ekonomi domestik.

Berbagai pengamat pasar melihat bahwa situasi terpuruknya nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh kombinasi sentimen negatif yang datang bersamaan. Masalah ini seolah membentuk sebuah gelombang ketidakpastian baru yang menguji ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Dari dalam negeri sendiri, sorotan tajam tertuju pada tata kelola lembaga baru yakni Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Kekhawatiran para investor global kian meningkat karena ada penilaian dari lembaga pemeringkat internasional mengenai risiko struktural di dalamnya.

Lembaga Fitch Ratings secara spesifik menyoroti bahwa pola pelaporan yang terlalu terpusat pada lembaga tersebut dapat memperbesar risiko tata kelola secara keseluruhan. Hal ini secara langsung mempengaruhi persepsi risiko investasi di Indonesia dan memicu aksi ambil untung oleh para pemodal asing.

Sentimen negatif domestik tersebut kemudian diperparah oleh kebijakan moneter yang diambil oleh otoritas perbankan sentral dalam menghadapi pelemahan nilai tukar. Langkah Bank Indonesia yang tetap mempertahankan suku bunga acuan dinilai sebagian pelaku pasar kurang responsif dalam meredam gejolak yang terjadi.

"Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di tengah tekanan nilai tukar juga dinilai pasar kurang agresif," ujar Wahyu, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Kamis (30/4/2026). Kutipan tersebut menggambarkan keraguan yang muncul di kalangan analis terkait efektivitas bauran kebijakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Di samping masalah domestik yang belum mereda, dinamika geopolitik di tingkat global turut memberikan pukulan telak yang memperberat posisi mata uang rupiah. Ketegangan yang terus memanas di kawasan Timur Tengah secara langsung berdampak pada pergerakan harga komoditas penting dunia.

Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat meroket hingga menyentuh level 108 dolar Amerika Serikat per barel akibat konflik tersebut. Lonjakan harga komoditas energi ini otomatis melambungkan beban impor energi yang harus ditanggung oleh anggaran pendapatan dan belanja negara kita.

Dengan beban impor yang membengkak, tekanan terhadap cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah pada awal bulan Mei diperkirakan akan semakin berat. Para pelaku pasar kini bersiap mengantisipasi kelanjutan tren pelemahan ini dalam beberapa pekan ke depan.

Ada pula kekhawatiran mengenai rilis data inflasi dalam negeri yang diproyeksikan akan mengalami kenaikan cukup signifikan dalam waktu dekat. Potensi lonjakan inflasi ini dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi yang baru saja diberlakukan pemerintah.

Selain itu, faktor musiman seperti pembayaran dividen kepada para pemegang saham asing turut mendorong terjadinya aliran modal keluar dalam jumlah besar. Fenomena ini rutin terjadi setiap tahun namun kali ini dampaknya terasa lebih menyakitkan karena bertepatan dengan kondisi rupiah yang rapuh.

Sementara itu, kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat juga terus menyedot likuiditas dari pasar negara berkembang. Sikap hawkish dari Federal Reserve ini membuat aset dalam mata uang dolar menjadi jauh lebih menarik bagi para investor global.

Dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian ini, banyak pihak mulai memprediksi tingkat pelemahan lebih lanjut yang mungkin dialami oleh mata uang garuda. Berbagai skenario buruk mulai diperhitungkan oleh para pelaku pasar jika kondisi eksternal dan internal tidak kunjung membaik.

Wahyu Laksono berpendapat bahwa pelemahan rupiah pada awal Mei berpotensi menembus kisaran Rp17500 hingga Rp17800 per dolar AS jika badai tekanan eksternal dan domestik terus berlanjut. Pandangan tersebut mencerminkan kewaspadaan tinggi terhadap arah pergerakan mata uang nasional dalam jangka pendek.

Meskipun tren pelemahan masih sangat kuat, harapan untuk terjadinya pembalikan arah atau rebound pada nilai tukar rupiah tetap terbuka cukup lebar. Pemulihan ini tentu membutuhkan sinergi yang kuat antara kebijakan moneter domestik dan perbaikan kondisi ekonomi global.

"Rupiah bisa berbalik arah jika terdapat intervensi BI yang lebih agresif, data perdagangan Mei menunjukkan surplus yang kembali melebar, dan meredanya tensi geopolitik global yang menurunkan harga minyak ke bawah US$ 90," ujar Wahyu, sebagaimana diberitakan oleh sumbernya, Kamis (30/4/2026). Harapan ini menjadi pegangan bagi para pelaku pasar yang mengharapkan adanya angin segar di tengah tekanan beruntun.

Di sisi lain, otoritas moneter terus berupaya meredam volatilitas yang berlebihan melalui bauran kebijakan intervensi di berbagai lini pasar keuangan. Langkah intervensi tiga cabang yang mencakup pasar spot, pasar forward, dan pasar obligasi dinilai masih mampu menahan laju pelemahan yang terlalu drastis.

Walaupun langkah tersebut berhasil mencegah kepanikan pasar yang lebih luas, tren pelemahan secara umum memang belum sepenuhnya bisa dibalikkan menjadi penguatan. Investor masih terus mencermati seberapa efektif bauran kebijakan tersebut dapat bertahan menghadapi gempuran ketidakpastian global yang masih tinggi.

Hingga saat ini, kondisi cadangan devisa nasional yang tercatat sebesar 148 miliar dolar Amerika Serikat dinilai masih sangat mencukupi untuk mendukung stabilitas. Namun demikian, kecepatan penggunaan dana cadangan tersebut dalam melakukan intervensi pasar tetap menjadi perhatian serius bagi kalangan pelaku pasar modal.

Reporter: Moch Febrianto