Menteri Abdul Mu’ti Ingatkan Pentingnya Kejujuran Saat TKA SMP 2026

Senin, 06 April 2026 | 12:58:08 WIB
Menteri Abdul Mu’ti Ingatkan Pentingnya Kejujuran Saat TKA SMP 2026

JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP resmi dimulai di seluruh Indonesia. 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memastikan pelaksanaan TKA berjalan sesuai ketentuan. Program ini bertujuan memberikan data komprehensif tentang kemampuan akademik dan karakter siswa.

Mu’ti menekankan bahwa TKA bukan penentu kelulusan murid. Penentuan kelulusan tetap menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan. “Kesiapan kelas dan penataan teknis sudah sesuai dengan ketentuan. Kita berharap pelaksanaan TKA ini dapat berjalan lancar,” ujarnya.

TKA diadakan untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi serta melengkapi survei karakter dan lingkungan belajar. Hasil TKA akan menjadi bagian dari penilaian prestasi siswa yang selama ini mencakup nilai rapor dan capaian nonakademik. Data ini membantu sekolah menilai profil murid secara lebih menyeluruh.

Tujuan TKA dan Manfaat bagi Siswa

Melalui TKA, pihak sekolah memperoleh profil kemampuan murid secara komprehensif. Data mencakup aspek akademik, karakter, serta kondisi lingkungan belajar. “Data ini nantinya menjadi referensi dalam proses sistem penerimaan murid baru melalui jalur domisili, prestasi, maupun afirmasi,” jelas Mu’ti.

TKA mendorong siswa belajar dengan cara yang jujur dan gembira. Jargon “Jujur dan Gembira” menjadi pedoman agar murid tidak menjadikan TKA sebagai beban. Mu’ti juga menekankan agar pengawas menjalankan tugas secara profesional tanpa membuat dokumentasi yang tidak perlu.

Program ini juga menjadi sarana untuk menanamkan integritas sejak dini. Siswa belajar menghargai proses, bukan hanya hasil. Hal ini mendukung pembangunan karakter murid yang beretika dan bertanggung jawab.

Pelaksanaan TKA dan Sistem Pencegahan Kecurangan

Kemendikdasmen menyiapkan sistem pencegahan kecurangan agar TKA berjalan kredibel. Proteksi teknis memastikan asesmen transparan dan akuntabel. Hasilnya, tingkat partisipasi nasional mencapai sekitar 98 persen pada hari pertama, sedangkan 2 persen siswa belum mengikuti karena kesiapan psikologis atau pertimbangan orang tua.

Di SMP Negeri 2 Curug, partisipasi siswa mencapai 100 persen. Mu’ti mengatakan TKA dirancang sebagai sistem “five in one” yang menghasilkan data kemampuan akademik, literasi, numerasi, karakter, dan kondisi lingkungan belajar. Dengan sistem ini, sekolah memperoleh gambaran menyeluruh mengenai potensi murid.

Skema TKA juga menyesuaikan kondisi sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Soal tidak sepenuhnya berbasis daring sehingga keterbatasan perangkat tidak menghambat pelaksanaan. Mekanisme ujian susulan disiapkan bagi sekolah terdampak bencana, seperti kebakaran dan banjir.

Tinjauan Hari Pertama di SMP Negeri 2 Curug

Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, menyatakan hari pertama TKA berjalan lancar. Sekolah menggunakan tiga ruang dengan masing-masing sekitar 20 peserta per sesi sehingga total 60 siswa. “Alhamdulillah pada sesi pertama berjalan lancar. Hari ini dilaksanakan dalam tiga sesi,” jelasnya.

Tidak ada kendala teknis selama pelaksanaan, baik jaringan maupun token. Purwaningsih menyebut siswa diminta membiasakan diri dengan karakter soal TKA. Guru juga mulai menyusun soal serupa agar murid terbiasa dengan model asesmen ini.

Langkah-langkah ini membantu siswa beradaptasi secara alami tanpa bimbingan khusus. Murid diajak menghadapi soal dengan percaya diri dan keterampilan yang dimiliki. Sekolah memastikan suasana belajar tetap kondusif dan mendukung persiapan TKA.

Pengalaman Siswa Menghadapi TKA

Salah satu murid, Heiba Anindya, mengaku awalnya takut menghadapi TKA. “Jujur awalnya takut dan deg-degan, karena ini pengalaman baru bagi kami. Tapi saya juga penasaran dengan soal-soalnya, karena dari cerita kakak kelas ada yang bilang sulit, ada juga yang bilang mudah,” ungkapnya.

Heiba mempersiapkan diri bertahap sejak beberapa bulan lalu. Intensitas belajar meningkat menjelang pelaksanaan TKA agar siap menghadapi semua jenis soal. “Saya mulai belajar dari bulan Desember secara bertahap. Tapi seminggu terakhir sebelum TKA, saya lebih intens belajar untuk memaksimalkan persiapan,” jelasnya.

Dukungan orang tua menjadi faktor penting dalam menghadapi TKA. Orang tua membantu menyediakan buku latihan dan motivasi sehingga Heiba merasa lebih siap. “Walaupun TKA tidak menentukan lulus atau tidak, saya tetap ingin memberikan yang terbaik dan mendapatkan hasil maksimal,” tutup Heiba.

Terkini