JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik kembali menarik perhatian pelaku pasar pada awal perdagangan Rabu.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG membuka sesi di zona hijau, melanjutkan tren penguatan yang telah terbentuk sejak perdagangan sebelumnya. Kondisi ini memberi sinyal awal optimisme, meskipun pasar tetap dibayangi sejumlah sentimen global dan regional yang bergerak beragam.
Penguatan IHSG terjadi di tengah kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang saling memengaruhi. Investor domestik terlihat masih aktif memanfaatkan momentum, sementara investor asing cenderung bersikap lebih hati-hati. Situasi ini membuat arah pergerakan indeks diperkirakan tidak terlalu agresif, namun tetap membuka peluang trading jangka pendek.
IHSG Menguat Pada Awal Perdagangan
Pada pembukaan perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, IHSG tercatat berada di posisi 8.121,033. Berdasarkan data RTI hingga pukul 09.16 WIB, indeks kemudian menguat 44,725 poin atau setara 0,55 persen ke level 8.167,322. Sepanjang pagi, IHSG sempat bergerak di rentang tertinggi 8.194,683 dan terendah 8.101,861.
Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen positif dari perdagangan sebelumnya. Namun, fluktuasi yang terjadi sejak awal sesi menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal sebelum mengambil posisi lebih besar.
Catatan Perdagangan Dan Aksi Investor Asing
Riset harian BNI Sekuritas mencatat bahwa IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat 2,52 persen. Meski demikian, penguatan tersebut disertai dengan aksi jual bersih atau net sell investor asing sebesar Rp760 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BMRI, BBCA, ANTM, BBRI, dan TLKM.
Aksi jual asing ini menandakan bahwa kepercayaan investor global belum sepenuhnya pulih. Walaupun indeks mampu menguat, aliran dana asing yang masih keluar membuat pasar cenderung bergerak lebih hati-hati dan rawan koreksi jangka pendek.
Tekanan Dari Bursa Amerika Serikat
Dari sisi global, sentimen negatif datang dari pergerakan bursa saham Amerika Serikat. Indeks-indeks Wall Street ditutup kompak melemah pada Selasa, 3 Februari. Penurunan ini terjadi seiring aksi rotasi investor dari saham teknologi ke sektor-sektor yang dinilai lebih diuntungkan oleh pemulihan ekonomi.
Indeks S&P 500 tercatat turun 0,84 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,34 persen, sementara Nasdaq Composite anjlok 1,43 persen. Tekanan di pasar AS ini menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar domestik tetap waspada dalam menyikapi penguatan IHSG.
Bursa Asia Berikan Sentimen Positif
Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa Asia justru bergerak menguat pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026. Indeks Nikkei 225 Jepang melesat 3,92 persen, Hang Seng Hong Kong naik 0,22 persen, dan Taiex Taiwan menguat 1,81 persen.
Selain itu, Kospi Korea Selatan mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 6,84 persen, sementara ASX 200 Australia naik 0,89 persen. Kinerja positif bursa Asia ini turut memberikan sentimen penopang bagi pergerakan IHSG pada awal perdagangan hari ini.
Perkiraan Pergerakan IHSG Hari Ini
Menyikapi beragam kondisi tersebut, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherma menyampaikan bahwa IHSG berpotensi bergerak sideways pada perdagangan hari ini. Menurutnya, pasar masih mencari arah yang lebih jelas di tengah campuran sentimen global dan domestik.
“Diperkirakan support IHSG berada di kisaran 7.900–8.000 dan resist di area 8.175–8.300,” kata Fanny Suherma dalam riset yang dirilis Rabu, 4 Februari 2026. Rentang tersebut menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam menyusun strategi trading jangka pendek.
Rekomendasi Saham Untuk Trading Idea
Di tengah pergerakan IHSG yang diperkirakan cenderung sideways, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dapat menjadi pilihan trading idea hari ini. Saham-saham tersebut dinilai memiliki peluang pergerakan menarik secara teknikal dalam jangka pendek.
Saham MBMA direkomendasikan speculative buy dengan area beli di Rp625 hingga Rp650, cutloss di bawah Rp600, dan target dekat di kisaran Rp670 hingga Rp700. Sementara itu, NCKL juga masuk kategori speculative buy dengan area beli Rp1.250 hingga Rp1.300, cutloss di bawah Rp1.240, dan target dekat Rp1.350 hingga Rp1.400.
Untuk saham CDIA, strategi yang disarankan adalah buy if break di level Rp1.080, dengan target dekat Rp1.110 hingga Rp1.185 dan cutloss di bawah Rp1.000. Saham ARCI direkomendasikan speculative buy di area Rp1.660 hingga Rp1.690, cutloss di bawah Rp1.650, serta target dekat Rp1.735 hingga Rp1.770.
Saham BRMS disarankan dengan strategi buy on weakness di area Rp930 hingga Rp945, cutloss di bawah Rp915, dan target dekat Rp990 hingga Rp1.070. Adapun saham BUMI direkomendasikan buy if break di level Rp268, dengan target dekat Rp276 hingga Rp296 dan cutloss di bawah Rp250.
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, pelaku pasar diimbau tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Pemanfaatan rekomendasi saham ini diharapkan dapat membantu investor menangkap peluang cuan jangka pendek, sekaligus tetap menjaga kehati-hatian di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.