Rupiah Dibuka Melemah Ke Rp16.764 Per Dolar AS Awal Perdagangan

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:25:19 WIB
Rupiah Dibuka Melemah Ke Rp16.764 Per Dolar AS Awal Perdagangan

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal perdagangan Rabu, 4 Februari 2026. 

Rupiah membuka perdagangan dengan kecenderungan melemah, sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia lainnya. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pasar dalam merespons berbagai sentimen global dan domestik yang masih saling tarik-menarik di pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka melemah 0,07 persen ke posisi Rp16.764,5 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat tercatat menguat tipis sebesar 0,07 persen ke level 97,36. Penguatan dolar AS tersebut turut memberikan tekanan terhadap pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pergerakan Rupiah Sejalan Mata Uang Asia

Seiring dengan pelemahan rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia Pasifik juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang tercatat melemah 0,28 persen terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong ikut terkoreksi 0,02 persen, sementara dolar Taiwan melemah 0,19 persen. Won Korea Selatan juga bergerak turun sebesar 0,14 persen pada awal perdagangan.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru mencatatkan penguatan. Dolar Singapura menguat 0,04 persen, yuan China naik 0,06 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,20 persen, dan baht Thailand menguat 0,21 persen terhadap dolar AS. Variasi pergerakan ini mencerminkan respons pasar yang berbeda-beda terhadap sentimen global yang berkembang.

Sentimen Global Tekan Pasar Valuta

Sebelumnya, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor global yang memengaruhi pergerakan rupiah di pasar uang. Salah satu sentimen utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik yang kian memanas tersebut memicu sikap waspada investor global, yang cenderung mencari aset aman.

Ketegangan geopolitik ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang safe haven. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan tambahan. Kondisi tersebut membuat pasar valuta bergerak lebih fluktuatif dalam jangka pendek.

Kesepakatan Dagang AS Dan India Jadi Sorotan

Selain isu geopolitik, sentimen perdagangan internasional juga turut memengaruhi arah pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan India terkait kebijakan tarif impor. Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat memangkas tarif impor barang-barang asal India dari sebelumnya 50 persen menjadi 18 persen.

Kebijakan tersebut dilakukan sebagai imbalan atas keputusan India untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Langkah ini dinilai memiliki implikasi luas terhadap perdagangan global dan dinamika pasar energi. Pelaku pasar mencermati kebijakan tersebut karena dapat memengaruhi arus perdagangan dan stabilitas ekonomi global.

Isu Moneter AS Jadi Perhatian Investor

Di sektor moneter, pasar juga menyoroti langkah Donald Trump yang menominasikan mantan gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai calon ketua bank sentral Amerika Serikat berikutnya. Pergantian kepemimpinan di bank sentral AS dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga dan stabilitas moneter AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan dolar. Setiap sinyal perubahan kebijakan moneter dapat berdampak langsung pada nilai tukar mata uang global, termasuk rupiah.

Data Ekonomi Domestik Beri Dukungan

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati sejumlah rilis data ekonomi terbaru. Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi 51,2 pada Desember 2025.

Kenaikan PMI menunjukkan adanya ekspansi aktivitas manufaktur di dalam negeri. Kondisi ini mengindikasikan pertumbuhan permintaan pasar terhadap barang-barang produksi, yang didorong oleh perekonomian domestik. Namun, di saat yang sama, permintaan internasional tercatat mengalami penurunan selama lima bulan terakhir.

Peningkatan aktivitas manufaktur domestik dinilai dapat menjadi faktor penopang bagi rupiah dalam jangka menengah. Meski demikian, tekanan eksternal masih berpotensi membatasi penguatan rupiah dalam waktu dekat. Pelaku pasar cenderung menunggu perkembangan lanjutan dari sentimen global maupun kebijakan ekonomi utama.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif. Investor dan pelaku pasar valuta akan terus memantau dinamika geopolitik, kebijakan moneter global, serta rilis data ekonomi sebagai dasar pengambilan keputusan di pasar keuangan.

Terkini